“Anak-anak jangan ada yang menyontek saat ulangan ya. Ngerjain tugas tolong tepat waktunya… Jujurlah pada diri kalian sendiri…”
Sebuah kalimat itu mungkin sering kita dengar pada saat kita sekolah dulu, mungkin lebih tepatnya pada saat kita duduk di bangku SD. Betapa nilai-nilai kebaikan memang wajib ditanamkan sejak dini. Namun ketika kita sendiri mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, nilai-nilai kejujuran pun perlahan-lahan mulai luntur, dan mungkin hanya menjadi salah satu nilai-nilai kebaikan yang kita pahami, tanpa perlu dilakukan lagi.
Kejujuran memang sesuatu yang bernilai abstrak, agak sedikit susah bagaimana menjelaskan tentang nilai-nilai kejujuran sebenernya.
Dan pendidikan seharusnya menjadi pionir dan salah satu tempat bagi anak-anak untuk belajar dan mengerti tentang bagaimana nilai-nilai kejujuran wajib mereka miliki, tanamkan, dan diamalkan sehari-hari bukan hanya sekedar ‘jawaban dari pertanyaan pada saat ulangan’.
Namun sayangnya, selama ini pendidikan Indonesia sendiri hanya melihat hasil dan bukannya melihat proses selama anak-anak belajar. Orang tua pun juga terkadang menuntut anak mereka, bertindak sesuai dengan keinginan mereka, tanpa melihat kemampuan mereka sendiri. Pertanyaan mereka dan perhatiannya justru terkadang membuat perasaan anak-anak menjadi ‘jatuh.’
“Berapa nilai kamu? Kenapa bisa lebih jelek dari teman sekelasmu?”
Kebobrokan pendidikan Indonesia adalah tidak jelasnya tentang sistem Ujian Nasional, yang justru terkadang merugikan banyak murid-murid. Bagaimana bisa kelulusan hanya ditentukan selama beberapa hari, dan hanya beberapa mata pelajaran saja yang diujikan?
Hal inilah yang mendorong timbulnya praktik-praktik kecurangan di tiap sekolah. Banyak sekolah yang menargetkan kelulusan siswanya 100% tanpa melihat bagaimana mental siswa-siswa tersebut apakah siap untuk menerima kenyataan jika seandainya mereka tidak lulus?
Baru saya mendengar sebuah kabar yang cukup menyedihkan, apalagi kalau bukan berita tentang Nyonya Siami yang mengadukan tentang kecurangan penyelenggaraan UN di sekolah anaknya justru mendapatkan cercaan dari banyak pihak, serta dirinya dan keluarga juga diusir dari kampung.
Miris, ketika kejujuran tidak lagi dinilai penting dan tersamarkan seperti ini. Apakah menjadi orang jujur di Indonesia itu begitu merugi? Ataukah ini salah satu dari refleksi kehidupan kita yang sudah jarang untuk berlaku jujur? Ataukah ini salah satu potret pendidikan Indonesia?
Saya jadi teringat saat saya sekolah dulu, berpakaian putih abu-abu dan sedang bersiap-siap menghadapi UN. Setiap guru serta teman-teman saya sudah menyiapkan ‘amunisi-amunisi’ yang harus disiapkan saat ujian nanti. Bukan hanya rajin mengerjakan soal-soal latihan, tapi juga strategi apa yang akan dihadapkan nanti. Memang akhirnya begitu baik, seluruh siswa lulus 100%, tapi rasanya ada hal yang mengganjal karena tidak berlaku jujur.
___
Ayo ayo tanamkan sikap jujur dari diri kita sendiri, karena hal ini juga akan menular kepada orang lain. Karena kebaikan akan menyebar, sama halnya seperti kejujuran.
Jujur itu bikin untung lho, karena dengan berlaku jujur orang-orang akan percaya dengan kita dan kita akan banyak sekali mendapat keuntungan dari ini.
___
Berita terkait:
http://www.bincangedukasi.com/indonesiajujur-suarakan-dukunganmu-akan-kejujuran.html
Yup. Anak-anak tumbuh sesuai lingkungan mereka. Agenda kita jelas: Perubahan Sistem Pendidikan.
Ping-balik: #indonesiajujur: Suarakan dukunganmu akan kejujuran! | Bined