Pernahkah kamu membayangkan tinggal di sebuah desa yang jauh dari keramaian, kebisingan dan hiruk-pikuk kendaraan bermotor?

Atau pernahkah kamu membayangkan rasanya tinggal di sebuah desa dengan banyak ayam yang berlarian di sekitar halaman serta kandang sapi dengan rumah utama?

Kalau kamu masih membayangkannya, maka saya dan beberapa teman yang lain merasakannya sendiri dalam sebuah acara yang diadakan oleh BEM KM IM TELKOM yang bernama “BINA DESA.”

Acara yang baru berlangsung pertama kalinya ini diadakan di sebuah desa yang bernama Desa Citiis RW 17 di Kabupaten Cihanjuang (kalau saya tidak salah ya) dan diadakan selama 2 hari 1 malam yaitu 10-11 Desember 2011 kemarin. Di desa Citiis, kami menumpang di beberapa rumah penduduk yang alhamdulillah ramah-ramah dan baik hati sekali. Penduduk Desa Citiis sendiri sebenarnya tidak terlalu kuno seperti Kampung Naga ataupun Suku Baduy. Mereka sudah mengenal listrik dan motor untuk aktifitas mereka sehari-hari, hanya saja akses jalan untuk menuju desa tersebut sulit ditempuh karena letaknya yang berada di bawah bukit.

Jadi kami harus berjalan kaki beberapa kilo melewati jurang dan lembah untuk bisa sampai ke desa tersebut. Lumayan melelahkanlah buat saya yang tidak biasa olahraga. Selama di sana, ada 4 kegiatan besar yang saya dan rekan-rekan lakukan, antara lain penyuluhan, pengajaran, bakti sosial, dan  malam keakraban dengan warga. Selain kegiatan itu, kami juga banyak mengobrol dengan penduduk desa yang terdiri dari 33 kepala keluarga itu dan 100% orang sunda, tentang betapa susahnya bagi mereka untuk menjual hasil pertanian dan peternakan mereka karena keterbatasan akses itu, serta ketidaktahuan mereka tentang bagaimana caranya untuk berwirausaha.

Di sana pun tidak ada hari libur, setiap hari dan setiap waktu bekerja. Coba bandingkan dengan kita yang ada tugas mulai menumpuk, akan terus mengeluh terus-terusan.

Hal yang membuat cukup memiriskan hati saya adalah pada bidang pendidikan di desa ini, karena sebagian besar dari mereka hanya sekolah sampai bangku SD. Ada beberapa anak yang melanjutkan ke bangku SMP, dan baru pada tahun-tahun ini ada yang sampai ke bangku SMA. Cukup miris bukan? 😦

Kata seorang Ibu yang sempat mengobrol dengan saya hal ini terjadi karena mereka takut kalau menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi, mereka juga tidak akan mendapat pekerjaan. “Ada seorang anak di sini yang baru lulus SMA, dia nggak dapet-dapet kerja. Akhirnya jadi penambang pasir.” begitu kata seorang Ibu itu, kira-kira.

Dan ternyata usia pernikahan disini cukup muda lho. Pada saat anak berumur 14 tahun-17 tahun sudah dinikahkan oleh orang tua mereka. Untuk mendapatkan surat menikahpun mereka harus memalsukan umur agar mendapat pengakuan dari pemerintah. Saya sendiri termasuk salah satu koordinator acara yang bergerak di pengajaran, dan bersama 6 rekan saya yang lain yang dibagi menjadi 2 orang setiap pelajaran, kami mengajarkan 3 pelajaran kepadaanak-anak di desa Citiis yaitu Matematika, Musik, dan Bahasa Inggris.

Anak-anak disana begitu pemalu sekali, ketika kami mengajar mereka banyak yang hanya diam. Entah serius memperhatikan atau tidak mengerti bahasa yang kita bicarakan, karena mereka biasa berbicara dengan bahasa Sunda. Namun, yang saya liat mereka begitu antusias untuk mengikuti kegiatan pengajaran apalagi ketika jam perpindahan pelajaran karena ada GAMES yang dipandu oleh saya sendiri.

Di tengah keterbatasan yang mereka miliki, ada 2 orang anak yang menurut saya cukup menonjol dibandingkan dengan yang lain, yaitu Rudi dan Fani. Rudi, yang baru pertama kalinya belajar gitar berhasil dengan cepat memetik gitar. Setelah malam harinya, dia ternyata meminta gitar kepada Ibunya, dan dijawab dengan penolakan, “Uang darimana untuk membeli gitar?”

Sekali lagi saya terhenyak. Saya merasa selama ini begitu menghambur-hamburkan uang begitu saja selama ini, padahal Rudi, dengan keinginannya untuk mempunyai gitar yang harganya mungkin tidak seberapa itu harus menunggu. Sedangkan Fani, dia pintar membaca dan menghitung meskipun dia masih duduk di kelas 1 SD. Menurut cerita Ibunya, Fani senang belajar ketika ada mahasiswa-mahasiswa yang datang kesana. Tidak terasa sampailah juga waktu di hari Minggu. Kegiatan selanjutnya adalah kerja bakti membersihkan desa dan jalan-jalan ke Curug Penganten.

Terima kasih penduduk Desa Citiis yang telah mengajarkan saya pelajaran yang singkat namun cukup berharga tentang bagaimana bersyukur itu penting di tengah-tengah keterbatasan yang kita miliki. Seperti penduduk desa Citiis yang tidak pernah melepas senyum dari mulut mereka 🙂

Semoga di lain waktu saya masih bisa diberi kesempatan untuk berkunjung kembali ke sana.

___

*Dokumentasi oleh Ummu Syahida

Advertisements

4 thoughts on “Bina Desa 2011: Ketika Bersyukur itu Penting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s