Waktu terasa semakin berlalu, tinggalkan cerita tentang kita – Peterpan.

Ya, begitulah salah satu bait lirik dari Peterpan yang menggambarkan bahwa waktu itu berputar dengan sangat cepat dan tidak terasa. Saya sudah berumur 21 tahun, saya sudah menyandang predikat Mahasiswa Tingkat 3 serta mahasiswa tingkat akhir di kampus, saya punya adik yang masih kecil, Mama saya semakin tua, dan masih banyak perubahan yang terjadi seiring dengan waktu yang berjalan tanpa henti.

Hampir tiga tahun saya menempati kosan ini. Dengan 7 orang asing yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya, hingga menjadi sebuah keluarga kecil yang saling dekat dan menjaga satu yang lainnya. Kosan saya berada beberapa meter dari kampus, dan berada di sebuah gang sempit. Setiap hari saya berjalan kaki ke kampus dan terkadang harus mengalah kepada motor yang lewat dari gang itu, karena saking sempitnya gang itu jadi salah satunya harus saling mengalah.

Kosan saya tidak besar, tapi cukup nyaman untuk dijadikan tempat singgah selama saya berkuliah dan bersosialisasi selama di Bandung. Dan setelah hampir tiga tahun lamanya, dengan keluarga kecil saya di ‘rumah’, kami pun harus berpisah untuk selamanya. Tidak tinggal bersama lagi.

Kampus saya yang sekarang ini berada di daerah Geger Kalong, harus rela berpindah ke wilayah Dayeuh Kolot yang bahkan saya sendiri tidak rela untuk pindah kesana. 😦 Dakol, begitu saya sebut tempat itu, sangat jauh dari peradaban. Meski tempatnya dekat Buah Batu, untuk menuju kesana kita harus naik dua kali angkot. Udara di sana panas sekali, tidak seperti Geger Kalong. Airnya kotor, pemukimannya tidak teratur dan kumuh, dan saya sangat tidak suka kalau pindah kesana. Tapi apa boleh buat, toh pindah kampus pun siapa tau bisa membuatnya terasa lebih baik, kan?

Dan karena perpindahan kampus itulah, saya harus berpisah dengan mereka setelah hampir tiga tahun karena kosan kami yang berbeda dan tidak bersama-sama lagi. Seperti dulu.

Hampir tiga tahun lamanya saya mengenal mereka. Teman, sahabat, yang selalu ada ketika saya jauh dari keluarga.

Mereka membuat saya mengenal dan belajar, bahwa ada banyak orang yang mengerti dan peduli dengan kamu.

Tidak melihat apapun daerah asal atau kekurangan dan kebiasaan jelekmu.

Bersama mereka saya menjadi dewasa. Bersama mereka saya belajar untuk menjadi orang yang tidak boleh egois.

Banyak kejadian yang begitu sering kami alami, dari yang baik maupun buruk.

Dari yang menyenangkan atau bahkan menyedihkan.

Dari kami bermusuhan dan tidak ingin menyapa hingga kami saling menguatkan.

Kami yang tidak pernah lupa memberikan kejutan bagi mereka yang berulang tahun, meski dengan sebuah hadiah yang sederhana dan mungkin tidak terlalu mahal harganya.

Bahkan kami semua benar-benar tidak ada yang sama, secara fisik. 😛 *ditampol sama yang baca.

Intinya adalah,

Saya ingin mengucapkan kepada kalian: Lidya, Putri, Mira, Diany, Ghanjar, Kak Ninda, Dinda, dan Dita untuk semua waktu terbaik yang pernah kita habiskan.

Meski kita nanti jauh… jauh sekali… Tidak sempat saling menyapa, berkumpul atau memberikan kabar sekalipun dan hilang begitu saja, saya menyayangi kalian seperti keluarga. 🙂

Yang pasti saya sedih karena biar bagaimanapun juga memang tidak bisa dipungkiri setiap pertemuan pasti akan juga ada perpisahannya.

______

Peraasaan yang sedang mellow saat melihat kosan semakin sepi. Saya rindu keramaian yang seperti dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s