Saya lahir dan dibesarkan dengan kepulan asap rokok. Papa saya dulu seorang perokok aktif, dalam sehari dia bisa menghabiskan 2 – 5 kotak rokok sendirian. Pakde dan Bude pun seperti itu. Setiap ada acara kumpul keluarga, akan banyak asap rokok yang memenuhi ruangan. Tidak heran, saya menjadi terbiasa dengan asap rokok dan menjadi hal yang wajar ketika melihat orang merokok di sekitar saya.

Saya bukan perokok, lebih tepatnya ,mungkin bukan perokok aktif. Tapi dulu saya pernah mencoba-mencoba untuk merokok, ketika saya masih di Sekolah Dasar. saya pernah menghisap rokok dalam keadaan mati hanya untuk ‘mencicipi’ hisapan yang manis. Kemudian saya kapok, karena waktu pelajaran IPA, guru saya pernah menghukum siswanya yang mengaku merokok. Waktu itu saya berbohong sehingga tidak dihukum, namun tetap saja itu mengganjal dalam diri saya.

Percobaan merokok saya yang kedua kalinya yaitu ketika saya sudah kuliah. Saya suka bergaul dengan anak laki-laki yang notabene perokok, dan saya pernah iseng untuk menghisap rokok yang sudah terbakar. Waktu itu rokok yang saya coba rasa mentol. Hasilnya bisa dipastikan, saya batuk-batuk setelahnya karena rasanya yang begitu nyelekit di tenggorokan, dan saya kapok untuk tidak akan mencoba rokok lagi.

Setelah Papa tidak ada, saya jadi orang yang anti-dengan-asap-rokok. Ingat hanya anti dengan asapnya bukan orangnya lho ya. Mungkin karena sudah tidak sering menghirup udara yang sama dengan perokok lagi, membuat saya sering merasa sesak ketika ada orang yang merokok di sekitar saya. Makanya saya lebih senang untuk menghindari para perokok dan mengatakan pada mereka, ‘Matiin dulu dong rokok lo!’

Ketika berada di angkot, dan posisi orang yang merokok ada di samping saya, saya lebih senang untuk menutup hidung dan mulut dengan maksud untuk ‘menyindir’ ataupun membuka jendela selebar-lebarnya. Bila perokok itu peka dan merasa ada yang tidak nyaman dengan rokoknya, secara otomatis dia akan mematikan puntung rokoknya. Hal itu juga berlaku ketika saya sedang berada di Mall.

Bila saya dalam posisi jalan kaki, dan menemukan puntung rokok yang terbuang tapi masih menyala, saya juga akan menginjaknya sampai mati. Rokok yang belum mati itu juga lebih berbahaya kan, karena bisa menjadi salah salah satu sumber kebakaran.

*

Rokok memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Terutama di kalangan laki-laki yang masih menganggap bahwa rokok bagian dari kemaskulinan. Okelah bagi sebagian laki-laki yang saya lihat ketika dia merokok sih lebih terlihat lebih seksi, tapi sebagian lagi justru bikin jijik. -___-

Coba bayangin aja tukang angkot yang ngerokoknya kayak kita lagi nungguin kereta api yang lewat dan ngebawa angkotnya tanpa berperikemanusiaan kayak orang mabuk. Jijik nggak?

Padahal seperti yang kita tau, rokok itu memang berbahaya dan membahayakan diri sendiri juga orang lain. Coba berapa orang yang meninggal dunia karena penyakit komplikasi oleh rokok?! Apalagi kalau sudah merokok sering, ngopi pun sudah seperti makan nasi. Gaya hidup yang tidak sehat sekali. Kondisi yang paling terlihat mencolok itu bibir yang menjadi hitam, gigi jadi kuning kecokelatan, dan nafas jadi pendek.

Beberapa orang pernah saya tanyakan alasan mereka merokok. Ternyata jawabannya mungkin hampir sama dengan mereka yang pernah mengenakan narkoba. Awalnya dari coba-coba, rasa penasaran (kayak saya), biar ngilangin stres, dan karena orang tuanya yang juga perokok sehingga asap rokok dan rokok pun menjadi hal yang biasa.

Pernah saya ingin mencoba untuk merokok kembali, karena begitu ada beberapa masalah yang sedang saya hadapi, namun sialnya saya nggak bisa padahal niat itu udah ada. Ketika saya ingin membeli sebatang rokok, kata hati saya langsung menolaknya, dan bilang,

‘Inget Bel, bokap lo mati karena dia perokok. Lo mau kayak gitu?!’

*maaf ya Pa.

sampai sekarang saya masih memendam keinginan saya, atau saya akan melupakan keinginan saya yang memang tidak berguna ini. Mudah-mudahan saya masih berpikir realitis dan logis dan tidak akan melakukannya.

Kalau kalian sendiri, adakah pengalaman dengan rokok dan hidup kalian yang ingin dibagi?

Advertisements

3 thoughts on “Rokok dan Hidup Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s