Hari Sabtu kemarin, 8 September 2012 saya diajak oleh Pakde dan Bude saya ikut mereka ke Garut. Dengan senang hati saya mengiyakan ajakan mereka, karena udah mulai sumpek dengan kota Bandung, padahal baru seminggu setelah saya dari Yogyakarta dan menempati kampus baru di Dayeuh Kolot

Perjalanan ke Garut dengan mereka, sama dengan perjalanan saya ke Garut beberapa bulan lalu bersamanya, membuat saya senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan di mobil, karena mengingat setiap detail perjalanan yang kami berdua lakukan dulu.

Sampai di kota Garut, dan berkunjung  sebentar di rumah Ayah Bude saya, kami kembali pergi ke Taraju, Tasikmalaya. Perjalanan dari Garut-Tasikmalaya cukup memakan waktu dan cukup jauh, apalagi jalannya yang berkelok-kelok melewati gunung dan lembah bikin agak sedikit mual. Tapi perjalanan itu cukup bernilai, karena disunguhi oleh pemandangan yang indah dan hijau: sawah, gunung, kebun teh, dan jauh dari kebisingan. Saya juga sempat melewati Kampung Naga, tempat Study Tour saya ketika SMA.

Ketika tiba di Taraju, saya merasa tidak asing dengan tempat ini, padahal itu kali pertama saya datang kesana. Taraju seakan pernah saya dengar sebelum-belumnya, saya sendiri juga lupa di situ ada siapa. Di sana, kami makan nasi liwet yang dibuat dan dibawa oleh Bude saya di sebuah saung Pos Siskamling. Beberapa jam di Taraju, kami kembali lagi di Garut. Saya menginap di sebuah vila milik mereka. Rumahnya antik, dekorasinya terbuat dari kayu, ada pemancingan ikan, dan begitu luas. Ketika keluar dari pagar, ada beberapa petak sawah yang masih hijau.

Keesokan paginya, saya sempat berjalan kaki mengelilingi tempat ini. Saya melihat banyak sawah, tempat penggilingan padi, orang yang sedang memandikan kambingnya, rumah-rumah penduduk, serta ada sebuah sekolah dasar yang direhabilitasi.

Sayangnya, sawah-sawah yang sudah selesai panen tidak ditanami lagi. Padahal seperti yang saya pernah pelajari waktu saya masih sekolah, seharusnya ada penyilangan tanaman biar tanahnya tetap subur. Mungkin masyarakat disana kurang pengetahuan tentang pertanian. Lalu banyak sawah yang juga beralih fungsi menjadi tanah yang disulap untuk dibangun sebuah rumah, dan saluran irigasi yang kering karena kemarau.

Sore harinya, saya duduk di balkon lantai 2 sambil menangkap senja yang begitu indah. Ah, senja memang selalu indah untuk dinikmati dari mana saja. Perasaan saya mendadak mellow, membayangkan semua yang terjadi selama hidup saya beberapa akhir ini yang seperti mimpi saja. Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan saya berjanji ini adalah catatan perjalanan terakhir saya sebelum saya menuntaskan skripsi. Molor terus soalnya dan sampe sekarang belum tau mau membahas apa… T___T

___

Garut, 9 September 2012

postingan yang terlambat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s