1/

Belakangan ini aku sering membaca surat-suratmu, Nona Penulis.

Entahlah.

Luar biasa!”, kataku.

Lama aku tak menemukan surat yang isinya memporak-porandakan emosi.

Ada hujan yang tak sengaja menuruni pipi.

Nampaknya,

kata demi kata yang engkau bariskan

di setiap paragraf dalam suratmu itu

telah meruntuhkan tanggul air mataku.

Inikah rasanya tangis haru?”, tanyaku dalam hati.

Sepertinya begitu.

Sungguh menyentuh sekali pesan yang hendak engkau sampaikan kepada papamu.

Aku yakin, beliau pasti bangga padamu.

2/

Bella.”, gumamku.

Rupanya begitu kau tulis namamu di akhir surat itu.

Ingatkah kau

bahwa aku pernah berjanji menuliskan sebuah sajak

yang di dalamnya tercantum namamu?”

Lihatlah.

Inilah aku menuliskan sebuah sajak sederhana yang ku janjikan itu.

Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku atas nikmat air mata

yang (tak) sengaja kau bagi.

3/

Zikir adalah doa yang diucapkan berulang-ulang.

Orang-orang seringkali tidak menyadari bahwasanya dalam tulisan, mereka tengah jua berzikir panjang.

Doa-doa yang kadang kala tak terbilang.

Itulah yang kau lakukan, Nona Penulis.

Tabah hatimu tercermin dalam tulisan.

Asa yang engkau panjatkan pasti didengar oleh Tuhan. 

Maka, peluklah dirimu melalui ribuan aksara.

Aku yakin, papamu pun tengah memelukmu, tatkala mendengar hatimu bersuara.

Tasikmalaya, 19 September 2012

*

Terima kasih kang arie telah menuliskan puisi yang begitu manis ini. :’D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s