Siapa yang tidak mengenal Tere Liye? Penulis yang sudah menerbitkan banyak sekali buku dan salah satu novelnya “Hafalan Sholat Delisa” juga pernah diaptasi ke dalam sebuah film dan salah satu novel lainnya “Bidadari-Bidadari Surga” akan segera tayang di layar lebar.

Kemarin, tanggal 2 Oktober 2012 bertempat di Aula Institut Manajemen Telkom, Tere Liye datang ke kampus saya menjadi seorang pembicara. Perasaan saya deg-degan sekali waktu itu, mengingat Tere Liye ini termasuk salah satu penulis yang cukup misterius. Di beberapa bukunya yang sempat saya baca, dia tidak pernah mencantumkan profil singkat ataupun ucapan terima kasih. Bahkan sempat saya pikir Tere Liye adalah seorang perempuan, karena tulisannya dan nama penanya itu.

Acara seharusnya dimulai pukul 1, entah karena ada kenapa apa terpaksa mundur hingga setengah jam. Tapi itu tidak mengurungkan kemauan saya untuk bertatap muka dengan beliau. Dan setelah melihat Tere Liye atau yang memiliki nama asli Darwis itu, saya terperangah. Ah, akhirnya saya punya kesempatan bertemu dengannya sedekat ini. Siapa yang menyangka beliau masih sangat muda, kelahiran tahun 79, dan alumni fakultas ekonomi UI.

Sebelum acara dimulai, sempat ada sebuah sesi tanda tangan. Dan saya berhasil menodongkan tanda tangannya di buku yang (sebenarnya saya pinjam) saya bawa, “Sunset Bersama Rosie.”

Selama satu setengah jam, dia berbagi banyak hal tentang kepenulisan yang selama ini dia geluti. Orangnya tegas sekali, beberapa kali dia menegur audiens karena berisik, namun beberapa kali juga dia mengajak kami bercanda dan berinteraksi bersama.

Dia menyebutkan tentang penulis yang baik. Kebanyakan orang yang menulis karena menyenangkan, tidak dipaksa dan terpaksa dan tidak peduli dengan tidak ada komentar di tulisan kita. Namun kenyataannya justru kebalikannya, orang-orang memang menulis namun mereka seperti membutuhkan sebuah ‘pengakuan’ tentang tulisannya. Seperti saya yang selalu sedih melihat banyak orang yang berkunjung di blog ini tanpa mengucapkan beberapa patah kata. *halah.

Sebenarnya yang dia bagi selama seminar ini ya seperti penulis kebanyakan, menurut saya. Misalnya tentang problem-problem kepenulisan, seperti Menemukan ide dengan sudut pandang yang spesial, amunisi-amunisi yang harus dimiliki dalam menulis, yang menurutnya itu merupakan kumulatif dari perjalanan hidupnya, latihan sinonim kata, dan masih banyak hal yang dia bagi yang sayangnya terdapat keterbatasan waktu.

Namun yang membuat seminar penulisan ini berbeda selain pembicaranya adalah Tere Liye, adalah dia berbicara tanpa terkesan menggurui. Dia menganggap semua orang bisa menulis, bahkan dia sempat menyuruh kami untuk menulis kata-kata yang dia minta, seperti Hitam, dan Musterkanov. Setelahnya dia membaca tulisan yang kami buat, dan mengomentarinya. Bahkan tulisan saya sempat dibaca olehnya dan dia berkata, “Ini kayaknya bisa jadi cerita horor.” Hahaha…

Banyak pelajaran yang dia bagi, dan sayangnya sulit sekali saya ungkap disini karena catatan yang saya tulis sepanjang seminar kok nggak berarti banyak. Maaf ya…

Bertemunya saya dengan Tere Liye seperti membawa semangat dan motivasi baru bagi saya untuk menulis lagi. Ya, saya sudah lama tidak menulis novel ataupun cerita pendek. Paling hanya flash fiction yang kalian baca di blog ini. Saya ingin menulis lagi, menulis panjang dan mengirimkannya ke sebuah penerbit.

Katanya, yang paling penting adalah jangan putus asa!

Jadi apakah ada yang mau membaca draft tulisan saya yang sempat saya buat di semester kemarin? Silakan balas di sini dan sertakan email kalian, atau colek-colek saja lewat mention di twitter ya. Saya akan mengirimkannya kepada kamu. 🙂

___

Bandung, 3 Oktober 2012

Masih excited bisa ketemu langsung sama Tere Liye meski nggak sempet foto bareng

Advertisements

10 thoughts on “Expanding Your Passion! #Writingclass Bersama Tere Liye

  1. hehe… karena kata-katamu ini “Seperti saya yang selalu sedih melihat banyak orang yang berkunjung di blog ini tanpa mengucapkan beberapa patah kata. ” saya jadi meninggalkan ‘jejak’ di sini.. 😉

    Btw, salam kenal yaaa.. Oiya, kamu pernah ikutan ID bercerita ya? Namamu gak asing banget.. :p Salah satu buku ID bercerita sudah saya punya.. hehe..

  2. Saya baru membaca buku Eliana karangan Tere-Liye. Sebelum membeli saya terkesan sekali dengan subjudul “Serial Anak-anak Mamak” rasanya ini buku karangan orang Sumatera kalau melihat istilah Mamak tsb. Sesudah mulai membaca, makin kental rasa penasaran, apakah Tere Liye memang dari Sumatera atau bukan, karena cara bertuturnya membuat saya makin yakin akan hal itu. Sayangnya sedikit sekali info yang bisa dibrowsing ttg Tere Liye. Dari sedikit info itu saya ketemukan halaman blog ini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s