Menonton film rasanya tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Berbagai macam cerita dan visualisasi yang ditampilkan dari mulai yang bagus banget sampai yang ‘ini apa sih’. Menonton film juga bisa dimana saja, dari mulai di bioskop dengan mengeluarkan kocek lebih dalam, menonton lewat DVD/youtube, televisi, dan sekarang lewat gadget-gadget yang praktis.

Rasanya saya sudah menonton banyak sekali film yang berkesan banget atau membuat saya lupa-lupa inget. Film pertama yang saya tonton di bioskop adalah film Petualangan Sherina sewaktu saya masih berseragam putih-merah. Saya ingat sekali waktu itu, bioskop di kota saya hanya satu (tidak seperti sekarang di tiap mall pasti ada gedung bioskop sendiri) dan saya menonton bersama Mama dan adik saya dengan mengantri panjang sampai di luar studio. Antusias sekali saya waktu menonton film tersebut, sampai-sampai saya menahan untuk tidak buang air kecil saat film tersebut diputar agar tidak ketinggalan alur cerita yang dibintangi oleh Sherina dan Derby Romeo ketika mereka masih imut-imut sekali.

Setelah itu, saya jadi rajin nonton film. Ya nggak sering-sering banget sih, namanya juga masih anak SMP-SMA yang uang jajan masih terbatas, dan dikasihnya harian lagi. Hehe… Dulu waktu sekolah, saya menonton kalau pulang sekolah, atau ketika libur dan minta uang sama Papa atau Mama buat jalan-jalan ke Mall. Paling-paling juga nonton di bioskop cuma sesekali, nggak sesering sekarang.

Saya merasa saya dan gedung bioskop itu seperti sahabat dekat. Kalau lagi diajak jalan sama pacar atau gebetan (dulu) pasti ke bioskop, kalau bolos les pasti nonton di bioskop. Sampai-sampai koleksi karcis bioskop saya menumpuk di kotak, karena saya kumpulin dari saya waktu SMA kelas 3 kalau tidak salah, dan banyak hal yang terjadi di bioskop yang pernah saya lakukan dulu, salah satunya yang paling keren sih HP saya diambil sama mantan saya ketika kita berdua lagi menonton film “Maaf saya menghamili Istri Anda”. Saya nggak akan ceritain detailnya gimana, tapi yang pasti itu sih salah satu contoh aja.

Saya juga suka menyimpan tiket-tiket film yang udah saya tonton, dan masih ingat sama siapa saja saya menonton film itu. Duh, agak aneh ya emang. -__- Abis kan lucu aja, kalau misalnya nggak sengaja kita liat tiket itu terus senyum-senyum sendiri nginget film dan sama siapa kita menonton film itu.

Sekarang kalau saya lagi suntuk banget, maka pelarian saya selain menulis atau membaca buku, maka saya pergi ke Mall untuk menonton film. Nggak peduli saya menonton sendiri sekalipun, yang penting saya menonton dan ngilangin suntuk. Kadang-kadang sih saya juga ngerasa sedih sendiri ya, kok nontonnya sendirian aja, nggak bareng sama temen, atau sama pacar. *apa ini.

Semakin ke sini saya semakin sadar, bahwa terkadang film yang kita tonton menunjukkan refleksi diri kita yang sebenarnya, sadar ataupun tidak. Apalagi kalau menonton film yang tokohnya cukup terkenal atau jalan ceritanya yang ringan, tanpa sadar kita akan nyeletuk, ‘Ih kok kayak gue banget sih.’ Bener nggak kayak gitu?

Mungkin memang bisa dibilang begitu, apalagi film kan dibuat oleh manusia juga yang secara langsung ataupun tidak pun membuat film itu berdasarkan pengalaman pribadi atau kejadian yang dekat di sekitarnya, dan mungkin akan merespon para penonton untuk terbawa dalam setiap alur cerita yang ditayangkan. Kayaknya asik kali ya bila hidup yang sedang kita jalani sebenarnya adalah sebuah film yang sedang kita garap, yang sewaktu-waktu bisa kita pertunjukan ulang kepada orang-orang terdekat. Tapi sayangnya, nggak bisa begitu sih. Film itu berdurasi hanya beberapa jam, dan jelas udah ketahuan kapan selesainya, sedangkan hidup kita nggak tau sampai kapan dan bagaimana akhirnya. Yang pasti, seperti kalimat yang pernah saya baca,

‘Kalau kamu belum bahagia, berarti ini belumlah akhir kehidupanmu.’

Oiya, ngomongin tentang film, saya mau promosi sedikit ya soal film pendek yang saya bikin waktu Semester kemarin, sebelum saya pake jilbab dan rambut saya masih panjang. Hihi… Cekidot.

atau film pendek semi thiller dan horor yang diadaptasi dari serial Supernatural yang sebagian dari skenarionya saya yang buat.

___

Bandung, 12 Oktober 2012

Tulisan nggak jelas di siang hari

Advertisements

4 thoughts on “Mengibaratkan Film

  1. hahahhaha, sebuah hobby yang sama, Bella.

    aku dari dulu SMA sampai saat ini. yaph, udah lulus kuliah dari tahun 2010 lalu masih suka ngumpulin tiket bioskop. saking seringnya ke bioskop. tetapi kalau di jakarta sekarang bioskop mahal. makanya kemarin sempet yang namanya nulis hobby yang tertindas. *lebay* =))

    anyway, filmnya keren. aku dari kemarin mau buat film dengan skenarioku sendiri susah banget. gak nemu-nemu. sekalinya punya ide. transgender. 😐

    1. wah hobi kita sama ternyata. tapi nanti malah bingung naro tiketnya dimana. =))

      makasih ndue. kalo mau bikin film sih yg penting cari tim yang kompak dulu, pasti nanti bakal kebikin 😉

      1. kebetulan aku punya satu box cokelat dulu jadinya dikumpulkan jadi satu. =)) nah, kalau di bandung sepertinya tidak semahal disini, Bell.

        disini nomat dulu 20rebu, sekarang jadi 40rebu. Masya Allah. 😐

        iya, nanti mungkin. timnya juga cuman anak-anak kantor dan juga orang-orang yang bisa diperbantukan untuk membuat filmnya. kebetulan gebetan (ehcielahhh) anak DKV. 😐

        btw, aku kemarin ketemu sama danis. kita hosipan kamu loh. *hahahhaa* 😉 keplakin aja si danis ituh. :p

      2. wii mahal juga ya. untung aku gak punya niatan tinggal di jakarta, jadi gak stres. *curcol 😐
        nanti kalo filmnya beneran dibikin, aku mau liat juga ya. 😀
        ah, danis cerita apaan? -___- mudah-mudahan masih yang bagus-bagus ya.hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s