Rabu Malam, 7 November 2012 beberapa jam setelah selesai kuliah, saya melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini Semarang menjadi destinasi saya selanjutnya. Padahal saya tidak tahu apa-apa tentang kota ini, selain menjadi ibukota Propinsi Jawa Tengah. Dengan menumpang kereta Harina yang gerbong bisnis, pukul 20:30 saya berangkat kesana. Untuk tiket kereta sendiri harganya Rp 120.000,00 dari Stasiun Hall menuju Stasiun Tawang, Semarang. Namun berhubung saya memesan tiket di Indomaret, harganya ditambahkan menjadi Rp 7.000,00 cukup lumayan untuk menghemat ongkos menuju ke stasiun sebenarnya.

Sebenarnya saya sendiri tidak menyukai perjalanan pada malam hari, karena selain tidak bisa melihat pemandangan di luar kereta, perjalanan malam itu kelihatan menakutkan. Tapi ternyata kereta menuju Semarang yang dijual di Indomaret hanya Harina, dan itu hanya perjalanan malam saja. Perjalanan Bandung-Semarang hampir sama seperti perjalanan Bandung-Yogyakarta yang memakan waktu sekitar 8 jam. Kereta yang saya tumpangi akhirnya sampai di stasiun Tawang pukul 5 pagi keesokan harinya.

Hallo Semarang, kata saya dalam hati. Sampai hari Minggu saya akan menjelajahi kota ini.

Di Semarang, saya menginap di rumah Kak Indra, seorang teman yang saya kenal di dunia maya. Dia juga yang menjemput saya ketika saya sampai di kotanya. Hehehe… ๐Ÿ˜›

Sampai disana, saya diantarkan langsung ke rumahnya, menaruh tas yang saya bawa dan mencari sarapan. Perjalanan panjang itu membuat badan pegal-pegal. Selesai makan, saya istirahat sebentar, mandi, dan melanjutkan keliling kota Semarang. Kedatangan saya ke Semarang, ternyata disambut dengan mati listrik di daerah rumah Kak Indra, dan katanya listrik mati itu bisa hampir satu harian. Hiii…. Nggak kebayang saya gelap-gelapan di kota orang. -_-

Hari Pertama (8 November 2012)

Tempat pertama di Semarang yang saya kunjungi adalah Masjid Agung Jawa Tengah. Masjid Agung ini cukup besar, megah, dan mewah maka dari itu namanya Masjid Agung kali ya. Untuk masuk kesana, kami hanya perlu membayar uang parkir saja. Saya dan Kak Indra mengelilingi Masjid. Disana ternyata juga sebagai tempat rekreasi keluarga, karena ketika saya datang banyak orang tua bersama anak mereka.

berpose dulu

Oiya di kawasan masjid itu, ada sebuah menara yang dibuka untuk umum. Tinggi menara itu mungkin seperti Monas tanpa api emas di atasnya. Kami berdua masuk, dan membayar Rp 5.000,00/orang untuk menikmati pemandangan dari atas menara. Di atas menara, saya melihat kota Semarang dari ketinggian. Wow…. *norak. Kalian tau, disana tidak banyak bangunan yang tinggi seperti di Jakarta, Bekasi, ataupun Bandung. Bangunan tinggi disana bisa dihitung dengan jari, dan kebanyakan merupakan kantor pemerintahan.

Setelah memutar menara, yang pemandangannya hanya atap-atap rumah dan kantor saja, kami memutuskan untuk keluar, dan pergi ke Kota Lama. Yeyeye… saya paling senang sekali bila diantarkan ke sebuah tempat yang penuh dengan bangunan bersejarah. Ternyata di Semarang pun ada. Dengan berjalan kaki (motor Kak Indra dititipkan di Pasar), kami mengelilingi Kota Lama di tengah udara kota Semarang yang panas. Iya, Semarang panas teman-teman. Tapi masih lebih baik daripada Dayeuh Kolot yang sudah panas dan banyak butiran debu lagi. *sigh.

Bangunan lama di Kota Lama menurut saya masih dijaga dengan baik meski banyak juga yang sudah berubah fungsi menjadi perkantoran, ataupun rumah makan meski tidak separah Braga yang menurut saya sudah tidak terlihat keantikannya karena sudah ada Mall dan apartemen yang berdiri di sekitar kawasan itu. Selesai berkeliling Kota Lama, motor Kak Indra melaju lagi di jalan raya (asik deh bahasanya).

Hari itu, sudah cukup siang, jadi sebelum pergi lagi kami sempat sholat di sebuah Masjid di depan daerah Simpang Lima, kalau tidak salah nama Masjidnya Masjid Baiturahman. Ternyata saya baru tau dari Kak Indra, kalau disana tidak ada alun-alun tidak seperti kota-kota yang pernah saya kunjungi, Solo, Yogya, ataupun Blora. Jadi Simpang Lima pun katanya bisa diibaratkan sebagai alun-alun kota Semarang. Oiya di Masjid Baiturahman ini, shaf perempuan ada di atas, dan untuk ke atas sendiri cukup melelahkan karena melalui serangkaian perjalanan panjang (halah). Dan untuk kalian yang tidak membawa mukena, disana juga disediakan peminjaman mukena yang dijaga oleh seorang Ibu dengan sebuah kotak amal di depannya. Ya, hitung-hitung untuk mencuci mukena yang kita pakai.

Sholat sudah, akhirnya kita makan siang di belakang Kantor Pemerintahan Jawa tengah dekat Taman KB. Makannya di trotoar, lesehan, dan memesan Tahu Gimbal. Tahu Gimbal sendiri sekilas seperti gado-gado dengan bumbu kacang dan beberapa sayur.Terus yang bikin khas dari makanan ini, adalah tahu gimbalnya yang ternyata adalah adonan tahu yang dicampur dengan udang yang menyerupai bakwan. Harga makanannya silakan tanyakan Kak Indra. ๐Ÿ˜›

penampakan tahu gimbal

Karena dirasa sudah cukup, dan saya yang masih lelah sehabis perjalanan jauh, hari itu ditutup sampai disitu. Untunglah ketika kami sampai, rumah kak Indra masih mati listrik. Tapi tidak terlalu lama juga sih.

Hari Kedua (9 November 2012)

Saya sakit perut, sepertinya karena habis memakan tahu gimbal yang pedas itu dan lambung saya tidak kuat. Hiks. Tapi sakit perut itu, tidak menghalangi niat saya untuk menjelajah kota Semarang di hari kedua. *pasang Pom-pom

Katanya, kalau berkunjung ke Semarang tidak afdol kalau tidak berkunjung ke Lawang Sewu (katanya siapa juga nggak tau), jadi kami berdua ke Lawang Sewu. Semarangnya masih panas. Tiket masuk ke Lawang Sewu adalah Rp 10.000,00/orang, dan disana ternyata sudah ada beberapa guide yang menunggu dan terkesan โ€˜memaksaโ€™ untuk memakai jasa mereka. Jadi tiket masuk yang seharusnya โ€˜hanyaโ€™ 20.000, menjadi 50.000 karena memakai jasa guide. Sudah gitu, guide yang melayani kami berdua sangat tidak ramah. Penjelasannya terburu-buru dan tergesa-gesa sekali, dan ketika saya bertanya, dia menjawabnya ogah-ogahan. Ketika masuk ke dalam kawasan, kami disambut oleh sebuah pohon besar yang berada di tengah. Pohon yang sekilas mirip pohon beringin, ternyata itu adalah pohon mangga. Saya tertipu.

Katanya, pintu yang ada di Lawang Sewu ini tidak sampai seribu, dan sebelum dibuka untuk umum, tempat ini pernah dijadikan sebagai kantor kereta api, dan markas TNI. Lalu bentuk jendela di sana cukup unik, karena engselnya ada di bawah bukan di atas seperti jendela sekarang. Masih kata guide itu, dengan bentuk jendela seperti itu, pertukaran angin lebih cepat masuk dan mencegah kedatangan maling karena bingung cara masuknya. Benar juga!

jendelanya

Di tempat ini juga, katanya menjadi lokasi syuting Ayat-ayat cinta. Dengan semangatnya dia mengatakan,

โ€œIni lokasi Ayat-ayat cinta Mbak, pas lagi Fahri disidang. Jadi nggak perlu ke Mesir karena syutingnya cuma di Lawang Sewu.โ€

Kami berdua juga sempat naik ke lantai paling atas, dari Lawang Sewu yang ternyata banyak coretan-coretan dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Lalu sedang berlangsung pemugaran di gedung A dan B, jadi tidak dibuka untuk umum kecuali untuk pre-wed dan sudah mendapatkan ijin. Katanya juga, pemugarannya bisa berlangsung cukup lama. Sayang sekali, padahal di gedung A, ada sebuah kaca patri yang indah.

Di dalam kawasan Lawang Sewu, juga ada sebuah museum kecil tentang Sejarah Kereta Api di Indonesia, foto-foto pemugaran Lawang Sewu dan bahan-bahan replika di dalam pemugaran itu yang menyerupai bentuk aslinya. Di dalam Lawang Sewunya, juga ada sebuah maket yang menggambarkan keadaan Lawang Sewu setelah dipugar dan direnovasi.

tebak sepatu siapa itu? :P

Oiya di Lawang Sewu, terdapat sebuah ruang bawah tanah yang pernah menjadi lokasi syuting Dunia Lain. Untuk kesana, para pengunjung harus membayar lagi dan mengenakan sepatu bot karena jalanan yang becek. Berhubung saya takut dan takut sesak nafas, saya tidak masuk ke dalamnya. Cukup melihatnya dari atas.

Selesai berkeliling Lawang Sewu, kami makan siang di depan Masjid Baiturrahman sambil sholat lebih dahulu. Makan siang kali ini disponsori oleh nasi kucing yang beraneka ragam rasanya. Ada nasi gudeg, nasi rames, nasi goreng, nasi ayam suwir, dan lain-lain. Perut kenyang, kantong nyaman. *halah.

Malam hari, kami mencari makan di sekitar Taman KB. Berhubung perut saya yang lagi eror, dan tadi siang makan nasi kucing dengan lauk sate bakso yang ternyata pedas, jadi malam itu saya sama sekali tidak nafsu makan. Kami hanya memesan jagung bakar. Bodohnya saya, ketika perut lagi eror begitu, saya memesan jagung bakar pedas. Dan habis.

Selesai makan, Kak Indra mengajak untuk memutari Taman KB. Saya baru tau kalau disana ada sebuah patung dengan seorang Ibu dan dua anaknya dan saya juga baru ngeh maksudnya KB itu adalah Keluarga Berencana. Sempat kak Indra bertanya sama saya, โ€œKok itu cuma Ibu sama anak-anaknya? Bapaknya kemana?โ€

Saya mana tahu, lagipula kan Kak Indra kok ya malah nanya sama saya, akhirnya saya menjawab asal, โ€œPas patung ini dibuat Bapaknya lagi pergi kerja Kak, jadi nggak ada.โ€

Jawaban tentang kenapa patung si Bapak nggak ada pun sampai sekarang masih misteri yang belum terpecahkan.

Hari Ketiga (10 November 2012)

Lagi-lagi Semarang masih panas. Hari itu, saya diajak Kak Indra ke kuil Sam Poo Kong. Kali ini perjalanan lain dari biasanya, karena menggunakan angkot. Angkot di Semarang, seperti angkot di Bandung yang dilihat dari jurusannya saja. Dengan naik dua kali angkot, kami berdua sampai di kuil Sam Poo Kong. Tiket masuk disana sebesar Rp 3.000,00/orang untuk turis lokal, dan Rp 10.000,00/orang untuk turis asing.

Kuil Sam Poo Kong lumayan besar. Ada beberapa patung, dan ada sebuah bangunan yang akan dibangun. Ketika kami sedang berduduk di bawah pohon, karena kelelahan dan kepanasan (sebenernya saya doang sih kayaknya), kami dihampiri oleh dua orang dari LSM yang sedang mengadakan penelitian untuk lokasi wisata di kota Semarang dan membagikan kuesioner. Melihat kuesioner saya jadi ingat skripsi. Sedih sekali karena saya belum bimbingan lagi…

Saya agak sedikit kecewa ketika di kuil ini, karena untuk yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke kuil utama, dan kalaupun mau tetap masuk harus membayar lagi sebesar Rp 20.000,00/orang. Keluar dari kuil, cuaca masih panas. Saya membutuhkan sesuatu yang segar-segar. Kebetulan sekali, di luar kuil ada pedagang es kelapa muda. Ketika kami menghampiri kesana, pedagangnya tidak ada, dan ada seorang Ibu penjual teh yang menawarkan minuman. Saya tidak mau, saya maunya minum es kelapa. Akhirnya, si ibu penjual teh itu menggantikan pedagang es dan melayani kami. Tapi, dia seperti tidak ikhlas gitu melayaninya, kami seperti diusir secara terang-terangan. Hm… ternyata saya salah menilai kalau orang-orang daerah itu ramah-ramah gara-gara si Ibu penjual teh itu. Ternyata es kelapa yang saya minum juga rasanya asem. Double BT saya jadinya.

Malamnya, Kak Indra mengajak untuk makan di luar. Dengan berjalan kaki, kami mampir di sebuah gerobak mie tek-tek. Saya memesan kwetiau goreng (yang lagi-lagi pedas), dan Kak Indra memesan nasi goreng. Rencana kami untuk ke Simpang Lima melihat orang pacaran gagal. Selesai makan, hal yang tidak terduga terjadi. Kak Indra memberikan sebuah bangau kertas berwarna pink kepada saya. Di kertas itu, ada sebuah pesan yang dia tulis untuk saya. Saya sendiri bisa merasakan emosi ketika dia menuliskan pesan itu, terasa sekali kok. Tapi, maaf saya tidak bisa membalas pesannya.

Ketika kami mau pulang, hujan turun dengan deras. Nekat, kami menerobos hujan dan berhujan-hujanan. Basah kuyup ketika kami sampai rumah.

Hari Keempat dan Terakhir (11 November 2012)

Perut saya kembali tidak enak, dan badan saya sedikit demam. Saya sakit ketika ingin pulang seakan-akan kota Semarang tidak ingin melepaskan saya. Tapi tiket sudah terbeli, saya juga hari senin kan sudah harus kuliah lagi, jadi sakit pun tetap harus pulang.

Kereta saya berangkat pukul 20:30 dengan menumpang Harina lagi. Kali ini tiketnya Rp 150.000,00. Sepanjang siang, saya hanya tidur di tikar dan nonton TV juga. Nggak niat kemana-mana lagi, dan rasanya sudah cukup untuk berkeliling beberapa hari kemarin.

Selesai Magrib, saya meminta Kak Indra untuk mengantarkan ke Stasiun Tawang dan membeli oleh-oleh. Sebenarnya Kak Indra sudah mengatakan nggak usah cepat-cepat karena jaraknya sendiri tidak terlalu jauh. Tapi saya pikir lebih baik menunggu, daripada terburu-buru. Akhirnya Kak Indra mengiyakan saja.

Tumben-tumbenan sekali, saya mau membeli oleh-oleh. Biasanya nggak pernah. Saya membeli 10 wingko babat, dan sebungkus bakpia pathok. Oleh-oleh sudah di tangan, dan saatnya ke Stasiun Tawang.

Memang, kami datang begitu cepat. Jam 7 sudah sampai disana. Saking tidak enaknya kepala saya, saya membeli obat dulu di supermarket yang ada di stasiun. Saya duduk di ruang tunggu dengan mengipas-ngipaskan tangan. Semarangnya masih tetap panas. Disana saya melihat orang berlalu-lalang dengan berbagai macam bawaan. Sempat terpikir di benak saya, โ€œUntuk apa mereka melakukan perjalanan?โ€

Jam 8 lewat, saya masuk ke peron dan berpamitan dengan Kak Indra yang sudah saya repotkan selama beberapa hari ini. Saya duduk di sana, diiringi oleh suara pengamen keroncong yang ada di dalam stasiun. Hujan kembali turun.

Kereta saya tiba, dan saya masuk ke dalam gerbong. Kereta kali ini penuh sekali, di gerbong saya hampir semua bangku terisi dan begitu berisik karena banyak anak kecil. Terpengaruh oleh obat, sepanjang jalan saya tidur. Terbangun sesekali karena kereta yang berhenti di stasiun perbehentian. Tiba-tiba saja, tanpa diduga sebelumnya, gerbong kereta saya berguncang hebat. Semua penumpang panik. Kereta berhenti. Saya pikir ada yang tidak beres disitu. Berita-berita simpang siur. Katanya kereta anjlok. Panik, saya coba menuliskan kecelakaan itu di akun twitter saya, setidaknya kalau ada hal buruk terjadi setidaknya saya sudah mencoba memberitahukannya. Saat itu dini hari, saya lupa pukul berapa dan saya tidak tahu posisi kereta ini dimana. Tidak ada petugas KAI yang mengabarkan kondisi yang sebenarnya, saya dan penumpang yang lain dibiarkan bertanya-tanya. Awalnya, saya tidak ingin tidur, takut tiba-tiba kereta berguncang lagi. Tapi saya malah ketiduran, karena efek obat dan penanganannya yang lama.

Setelah kurang lebih satu jam, bala bantuan datang. Semua penumpang yang ada di gerbong bisnis disuruh keluar. Ternyata kereta bukannya anjlok, tapi roda kereta gerbong bisnis keluar dari jalur yang seharusnya. Saya melihat jam tangan. Pukul 2 pagi, dan cuaca begitu dingin sekali. Mesin diesel dan pekerja yang berusaha mengembalikan roda menemani saya. Evakuasi cukup lumayan lama, ketika semuanya selesai penumpang kembali masuk ke dalam gerbong. Saya pikir sudah cukup sampai di situ, ternyata tidak. Kereta berhenti di stasiun Tegal, dan penumpang kembali diturunkan disana. Gerbong keretanya akan diganti, mungkin untuk mencegah hal buruk terjadi. Saya kembali harus menunggu cukup lama. Pukul 4 atau 5 pagi, kereta baru berangkat dari Stasiun Tegal. Kereta benar-benar telat sampai di Bandung. Kalau tidak salah saya sampai di Bandung baru pukul 9 pagi, dari rencana pukul 5 pagi.

Selama perjalanan yang saya lakukan terakhir-terakhir ini, saya mau membuat beberapa kesimpulan dan saran ah:

  1. Untuk melakukan perjalanan, terkadang hanya diperlukan spontanitas. Karena bila direncanakan, justru akan gagal.
  2. Siapkan uang dengan nominal kecil di dompet yang lain.
  3. Tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak untuk bepergian, yang perlu hanya niat untuk berjalan-jalan.
  4. Kalau takut bepergian sendirian, ajaklah seorang atau beberapa orang teman yang punya hobi traveling. Saya sih mau aja.
  5. Buat pengelola tempat wisata daerah, saya pikir seharusnya menggunakan tiket terusan saja, daripada di setiap objek harus membayar.
  6. Yang terakhir, dan paling penting nih, Mari lowongkan waktu untuk menikmati daerah-daerah di Indonesia.

Kalau kalian punya info menarik, tentang event di kota kalian bulan Desember nanti, kabari saya ya. ๐Ÿ˜€

___

Bandung, 18 November 2012

Postingan yang terlambat

Advertisements

17 thoughts on “Catatan Perjalanan: Semarang

      1. biasa, terlalu capek dan makannya gak dijaga.. tp alhamdulillah sekarang udah sembuh kok ๐Ÿ™‚

        ah, senangnya! Semoga kita bisa melakukan perjalanan bareng yaaaa ๐Ÿ˜‰

      1. Dari sekian banyak kota-kota besar deket bandung, paling murah ya Jakarta sama Jogjakarta via kereta ekonomi. Tapi kalo ngeliat biaya hidup ya masih mendingan ke Jogjakarta. Bisa ke Surabaya, Semarang, sama Solo dengan murah. ๐Ÿ™‚

        Wah, ternyata anak IMT to? Semester berapa? Tetangga kampus. ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s