Beberapa hari ini hujan selalu datang ke kota saya,

Tidak dengan gerimis tapi langsung turun dengan derasnya.

Seperti air mata perempuan yang rindu dengan kekasihnya.

Hujan juga mengingatkan saya akan sesuatu hal,

Tentang bagaimana ada beberapa hal yang harus ditunggu

Seperti para pengendara motor atau pejalan kaki yang berteduh di sekitar ruko-ruko yang memadati pinggir jalan,

Di bawah jalan layang atau di tempat yang tidak membuat mereka kebasahan lebih banyak

Dan ada beberapa hal yang harus segera diselesaikan seakan tidak ada waktu,

Seperti mereka yang menerobos hujan, membiarkan tubuh mereka basah daripada harus membuang-buang waktu lama untuk menunggu hujan yang tidak kunjung reda.

Lebih tepatnya tidak tahu kapan hujan akan berhenti untuk membasahi tanah yang sudah sangat basah karenanya.

Saya senang dengan hujan, tapi tidak dengan frekuensi sesering ini.

Hampir sepanjang hari hujan turun di kota saya,

Membuat cucian yang dijemur menjadi tidak cepat kering, meski sudah dimasukkan ke dalam pengering sebelum dijemur terlebih dulu

Membuat udara menjadi lembab daripada biasanya,

Dan lembab sangat dekat dengan kesedihan.

Apakah hujan dapat dimaknai sebagai sebuah kesedihan seperti air mata seorang perempuan yang merindukan kekasihnya?

Atau apakah hujan berteman akrab dengan kesedihan?

Mungkin saja.

Lalu bagaimana dengan kotamu?

Hujankah disana?

_

Bandung, 27 November 2012

Iseng menulis puisi (–,)

Advertisements

One thought on “Hujan dan Kesedihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s