large (1)

(http://weheartit.com/entry/64087661/via/xFitnessPrincessxMLG)

Setiap orang pasti mempunyai kesempatan selama hidupnya. Tapi tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup mereka. Ada beberapa orang yang tidak percaya dengan adanya kesempatan kedua, karena bila kesempatan pertama saja sudah cukup atau berdampak buruk, untuk apa kesempatan kedua? Sedangkan sisanya percaya kalau kesempatan kedua itu ada. Karena setiap orang bisa berubah.

Kemarin, seorang teman saya sesama penulis sebut saja namanya Petronela Putri sedang mengadakan sebuah kuis tentang novel terbarunya ‘Love You Even More’. Pertanyaannya sangat sederhana yang kira-kira seperti ini:

“Apa yang kamu lakukan dan pengin kamu ubah kalau kamu mendapatkan kesempatan kedua?”

Iseng, dan tidak mengharapkan menang (karena beberapa kali ikutan kuisnya Mput dan kalah melulu), saya pun coba menjawabnya dengan beberapa kali twit dan saya buat seperti narasi:

Mungkin terdengar basi, tapi kalo dikasih kesempatan kedua mungkin aku gak akan pernah ngelakuin hal yang bikin kumenyesal. ya ada beberapa hal yg bikin nyesel sampe sekarang. Pertama ga ngikutin intuisi untuk segera pulang ke rumah. padahal kalo aku ikutin intuisiku untuk segera pulang, mungkin aku bisa ngeliat papa bernapas saat terakhir kalinya. :’)

Kedua, aku gak punya banyak foto dan momen berharga bareng papa. Jadi kalo dikasih kesempatan lagi, aku mau perbaiki itu. karena semua hal itu baru terasa hilang saat dia benar-benar nggak ada, bukan cuma dia pergi ke luar kota (ya Papa saya memang suka pergi dinas keluar kota selama beberapa minggu).

Walaupun nggak dikasih kesempatan kedua, inshaallah aku udah ikhlas sekarang. Toh yang udah berlalu kan nggak bisa diubah. Tapi aku yakin tuhan punya alasan kenapa Dia menyusun skenario seperti itu, karena aku orangnya sensitif mungkin nggak boleh dikasih liat momen-momen terakhirnya.

Dan siapa sangka twit yang curcol ini justru akhirnya menang dan saya dapet buku gratis dari Mput. 😀

*

Memang saya akui, saya tidak dekat dengan Papa saya. Dulu mungkin iya, saat saya masih sepantaran di usia sekolah dasar. Beliau sering mengajak saya pergi dan membelikan saya mainan. Saya dulu itu cewek tomboi, tapi anehnya suka ngumpulin boneka dan robot-robotan sekaligus. Semakin ke sini, saya mulai tidak beli mainan. Tapi pergi ke toko buku dan beli buku. Papa paling senang mengajak kami, saya dan adik kedua saya ke toko buku. Dan kami berdua dilepaskan di sana, terserah mau membeli buku apa saja. Tak heran setelah dari sana, plastik besar berisi 4 sampai 5 buku satu orang dan buku yang dia beli juga dibawa pulang ke rumah. Biasanya kalo sudah seperti itu, Mama suka ngomel-ngomel, ‘Beli buku melulu’. Soalnya Papa belinya pakai kartu kredit, dan Mama yang suka bayarnya mungkin terperangah karena jumlah nominal yang harus dibayar. Habis saya dan adik saya juga tidak tanggung kalau membeli buku, dicari yang bagus dan yang mahal. :p

Hal itu berlangsung selama SMA kayaknya, karena saya kuliah di Bandung dan kebersamaan itu semakin bisa dihitung jari. Setiap 2 minggu sekali, saya suka pulang ke rumah, tapi tidak ada quality time yang berarti. Sampai Papa saya didagnosa sakit saya masih saja mementingkan kuliah saya yang saat itu sedang padat-padatnya daripada pulang ke rumah, mengantarkan Papa saya cuci darah ataupun sekedar membuatkan beliau kopi.

Ada momen yang masih saya ingat sangat jelas. Waktu itu saya dan Papa pergi ke Giant, hanya berdua saja. Berbelanja sedikit, dan kami membeli dua Ice Cream Sunday Mcd dan pergi ke Bata untuk mencari sandal buatnya yang mau pergi keluar kota. Papa saya yang sudah sakit dan kakinya membengkak karna sakitnya itu, tidak sanggup menghabiskan ice cream-nya, akhirnya saya yang menghabiskan. Beliau minta saya memilihkan sandal buatnya. Saya pilihkan satu model dan ukuran yang biasa beliau pakai. Lucunya, ukuran itu tidak cukup karena kakinya yang bengkak jadi harus memilih beberapa ukuran yang lebih besar. Saat itu saya tertawa melihat beliau yang kesulitan memasukkan telapak kakinya ke dalam sandal, dan cenderung memaksakannya karena mungkin itu model yang dipilih oleh anaknya, jadi dia menghargai untuk membelinya.

*

Tahun ini, tahun ketiganya dia berpulang. Keadaan sudah berubah, pun juga dengan saya. Orang-orangnya masih mengenangnya dengan baik, termasuk Ibunya sendiri yang saya panggil Eyang. Beberapa minggu sebelum saya diwisuda, saya pulang ke Madiun, menemuinya. Saya dan Eyang juga tidak dekat, tapi entah bagaimana ketika saya ke sana, saya merasakan ada kerinduan yang sama-sama kami rasakan. Eyang tinggal sendiri di rumahnya, dan kedatangan saya mungkin jadi kebahagiaan kecilnya. Dia bercerita banyak soal Papa yang belum pernah saya dengar. Sesekali nada suaranya berubah, saya tau dia sedih mengenang anaknya yang pergi meninggalkannya lebih dulu. Siapa yang tau umur manusia selain penciptanya?

Berbeda dengan Eyang, saya mendengar sebuah cerita lain dari tetangga saya yang selama ini suka membantu di rumah. Betapa sebenarnya Papa saya adalah orang yang paling perhatian dan baik hatinya yang ditutupi oleh kecuekannya dan sikap acuhnya tersebut. Lalu ada sebuah fakta lagi yang saya tau mengenai beliau dan membuat hati saya hancur. Saya tidak akan menceritakannya di sini, terlalu pribadi.

Kalau saja waktu bisa terulang, saya ingin memperbaiki semuanya. Saya akan memintanya untuk segera berhenti merokok. Saya akan memintanya untuk mengajari saya mengaji dan mengimami setiap solat saya. Saya akan memintanya untuk berfoto bersama keluarga kami dan foto itu akan dipasangi pigura dan diletakkan di ruang tamu seperti di rumah keluarga lain yang pernah saya datangi. Saya akan memintanya untuk mengajari saya menyetir, bukan hanya belajar naik sepeda saja. Saya akan memintanya untuk mendongengi saya sebelum tidur. Saya akan memintanya untuk memeluk saya, dan mengecup kening saya seperti anak perempuan dan ayahnya yang sering saya lihat di televisi.

Yang terakhir, saya ingin memintanya untuk menunggu saya pulang ke rumah sebelum dia pergi selama-lamanya.

*

Jadi untuk kalian yang masih punya kesempatan memiliki momen berharga berbagi hangat bersama orang yang kalian sayangi, manfaatkanlah waktu itu sebaik-baiknya. Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi pada detik selanjutnya setelah ini.

___

Bekasi, 15 Juli 2013

Saya rindu mendengarkan suara Papa saya mengaji di tengah malam saat bulan Ramadhan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s