tumblr_mqpc4n2m5o1qioa69o1_500

(Sumber: tumblr.com)

Tuhan menciptakan manusia bukan tanpa alasan, begitupun dengan perjalanan yang sudah Dia catat dan dititipkan-Nya yang bernama takdir dan nasib. Namun, sayangnya beberapa dari umat-Nya yang cenderung mengabaikan dan cenderung menolak apa yang sudah diberikan-Nya. Padahal apa yang sudah Dia rencanakan pasti yang terbaik untuk kita, bukan hal sebaliknya. 🙂

Kata-kata itu yang selalu saya ingat-ingat bila ada kejadian yang tidak mengenakkan menurut saya. Saya yakinkan kepada diri saya sendiri, dalam hati, kalau ini bagian dari hidup saya yang mau nggak mau memang harus saya jalani. Siapa tau dengan hal ini membuat kepribadian saya lebih baik, dan derajat hidup saya diangkat lebih tinggi. *tsah.

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi, dan mudik sepertinya sudah menjadi tradisi orang Indonesia demi menyambut Idul Fitri. Apalagi bagi orang-orang yang merantau, kembali pulang ke kampung halaman saat Idul Fitri adalah saat-saat yang paling mereka tunggu dalam satu tahun terakhir. Untuk orang-orang yang sudah berkeluarga, mudik juga dijadikan suatu pengenalan ke keluarga dan kerabat lain yang jauh. Begitupun dengan keluarga saya, yang juga mengenal mudik sebagai salah satu tradisinya. Hehehe…

Sayangnya, sejak kepergian Papa saya, mudik bukanlah lagi menjadi bagian dari tradisi. Pernah satu tahun dia wafat, keluarga kami hanya menghabiskan waktu di rumah saja ketika lebaran. hanya ada sebuah percakapan kecil antara Mama, saya dan adek. Sudah. Tidak ada perayaan yang istimewa. Tahun berikutnya, baru kami sekeluarga mudik ke kampung halaman Mama dan Papa. Tapi sayangnya saya nggak benar-benar menikmati suasana mudik itu, karna ada sesuatu hal yang hilang dari tradisi mudik itu sendiri buat saya.

Tahun ini, berbeda lagi.

Saya punya keluarga baru. November tahun kemarin, Mama menikah lagi, dan saya mempunyai tiga saudari. Bapak, bekerja sebagai seorang pilot di sebuah maskapai penerbangan nasional. Seharusnya, tahun ini kami bisa menikmati lebaran bersama sebagai keluarga di kampung halaman Bapak di Solo, namun ternyata jadwal penerbangannya nggak memungkinkan hal itu. Bahkan saat lebaran pun, dia harus bekerja. Ya, saya coba memahami profesinya. Beradaptasi dengan sesuatu hal yang baru saya tahu.

Mau tidak mau, saya juga mesti menerima.

*

Selama satu bulan terakhir, saya menghabiskan waktu di rumah saja. Sejak memutuskan untuk resign dari detikTravel, status saya berubah menjadi sarjana-pencari-kerja. Waktu luang saya, banyak saya habiskan untuk menulis, dan tidur. Padahal saya orangnya pecicilan, nggak betahan. Cuma lagi-lagi, saya berusaha menerima. Mungkin itu salah satu cara-Nya untuk menyuruh saya istirahat dan menyelesaikan naskah novel saya yang terlantar. Hahaha…. *balik ke Ms.Word.

Menerima sesuatu hal yang sudah diberikan itu sebenarnya susah-susah gampang. Tergantung dari niat kita sendiri (ngaca). Semoga apa yang sudah saya rencana, tentu juga untuk kalian diterima oleh orang banyak. Kalau pun tidak, percaya saja Tuhan telah menyisipkan sesuatu hal yang lebih seru daripada rencana kita sendiri.

___

Bekasi, 30 Juli 2013

*lagi-lagi stuk menulis*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s