Hae, selamat malam semua…. 😀

Udah hampir seminggu ini, saya nggak ngeblog, ya. Iya, emang lagi sibuk, males, dan nggak tau harus isi apa di blog ini. Fufufu… *Ambil sapu bersihin debu.

Nah, mumpung sekarang mood saya lagi bagus, makanya saya nulis lagi di sini. Kali ini saya mau sedikit cerita tentang jalan-jalan saya ke Grand Indonesia bareng temen saya, Ajeng, hari minggu kemaren.

Rencananya kami ke sana itu adalah… Nyicipin makanan yang ada di Magnum Cafe. Ya biar nge-hitz gitu lho. Dengan menumpang APTB jurusan Bekasi-Bundaran HI, kami berdua pergi diikuti dengan cuaca yang luar biasa panas.

Saya pun juga baru tahu kalau buat ke GI, kami harus turun di Halte Tosari lalu jalan sedikit buat ke GI. Lagi menuruni anak tangga Trans Jakarta, saya menemukan stiker yang ‘unik’.

Iklan Biro Jodoh
Iklan Biro Jodoh Titanic

Buat yang suka jalan kaki, dari Halte Tosari ke GI sih nggak terlalu jauh. Cuma saya nggak menganjurkan jalan tanpa masker atau payung, karena debu dan panasnya nyiksa badan.

Kami sampai juga di GI. Setelah sempet bingung saking gedenya GI dan cukup ramai waktu itu, kami berdua sampai juga di Magnum Cafe. Hihihi… 😛 Alhamdulillah nggak perlu waiting list lama, kami berdua bisa masuk dan mencicipi suasana makan di sana. Cafe-nya bagus dan mewah. Apalagi sebelum masuk ke dalam cafe, kami melewati red carpet bak selebritis.

Salah satu pelayan memberikan buku menu kepada kami berdua. Saya sendiri sempat tercengang melihat daftar menunya. Kelihatan enak dan pengin dimakan semua soalnya. Range harganya berkisar antara Rp 17.000 – Rp 100.000 (belum termasuk PPN 10%) untuk semua makanan dan minuman. Saya sendiri akhirnya memesan salah satu menu makanan yang ada (lupa apa namanya) dan segelas orange juice buat meredam ‘manis’ makanannya itu.

Keep Calm and Eat Magnum
Keep Calm and Eat Magnum
Penampakan pesanan saya
Penampakan pesanan saya
I scream for ice cream
I scream for ice cream

Secara keseluruhan sih, tampilan makanannya sama kayak yang ada di gambar, cuma untuk menghabiskan satu porsi makananya tersebut (kebetulan pesanan Ajeng mirip dengan punya saya) kami berdua butuh perjuangan ekstra. Karena porsinya yang banyak, rasanya sangat manis (bayangin aja ada 2 magnum dalam satu porsi) sehingga agak sedikit eneg pas makannya. Jadi makannya harus pelan dan sesekali diselingi dengan obrolan pendek biar nggak terasa pas masuk mulut (lho?). Paling nggak, saya udah tahu seperti apa rasanya makan di Magnum Cafe. :p *ketawa bahagia *tapi isi dompet tidak.

Selesai dari Magnum Cafe, kami berdua nggak tau mau ke mana lagi. Eh tiba-tiba saya melihat Galeri Indonesia Kaya, yang ada di satu lantai atas setelah Magnum Cafe. Saya penasaran seperti apa tempat itu, karena kebetulan Jumat besok saya akan menghadiri acara di sana juga.

“Jeng, ke Galeri Indonesia Kaya, yuk,” ajak saya.

“Boleh, tapi kalo bayar nggak jadi masuk, ya,” kata Ajeng.

Depan Galeri Indonesia Kaya
Depan Galeri Indonesia Kaya

Untungnya sih gratis, jadi kami masuk ke dalam. Galeri Indonesia Kaya ini salah satu tempat ‘ajaib’ yang pernah saya masukin setelah Taman Pintar Yogyakarta. Gimana nggak, walau tempatnya nggak terlalu luas, tempat ini menyajikan banyak hal menarik tentang Indonesia. Ada banyak wahana interaktif yang bisa dicoba, seperti main alat musik tradisional dengan touch screen, mencoba berpakaian daerah dari LED yang ada (bingung menjelaskannya) atau mencoba keliling indonesia dan menemukan hal yang menarik di situ dengan sekali sentuh juga. Keren banget deh pokoknya! Anak-anak pun juga senang datang ke sini, karena tempatnya yang nggak ngebosenin.

Ada yang bisa bantu mengartikan?
Ada yang bisa bantu mengartikan?
Anak-anak yang melek teknologi
Anak-anak yang melek teknologi
Main alat musik tradisional versi modern
Main alat musik tradisional versi modern
Ya, sesekali post muka sendiri yang cakepan, ya.
Ya, sesekali post muka sendiri yang cakepan, ya.

Terus ternyata di Galeri Indonesia Kaya juga sedang ada beberapa acara. Coba cek aja website-nya atau twitter-nya juga.

Ketika kami datang ke galeri, ternyata di auditoriumnya sedang ada pertunjukkan. Sebenarnya agak ragu buat masuk, karena saya pikir harus mendaftar dulu di hari sebelumnya, tapi nyatanya nggak. Kami berdua hanya mendaftar langsung, lalu dikasih nametag dengan tulisan Penikmat Seni.

IMG_20140406_160303

Di dalam auditorium ternyata ditampilkan pertunjukkan dari Sumatera dan Betawi. Beberapa tarian khas sana ditampilkan. Sayangnya, dari banyaknya penari, jarang ada penari muda yang seumuran saya. Kebanyakan ya, sudah terlihat berumur dan senior. Selama kurang lebih 1 jam, saya benar-benar terhibur dengan pertunjukkan daerah tersebut. Saya juga pengin nangis bahagia karena bisa menonton pertunjukkan daerah di Jakarta. Standing applause pokoknya. :’)

Para peform art di atas panggung
Para pemain di atas panggung
Selfie sama Ajeng. :p
Selfie sama Ajeng. :p

Selesai dari Galeri Indonesia Kaya, kami melipir sebentar ke Wakai. Ceritanya saya mau beli sepasang sepatu baru begitu. Setelah melihat dan naksir beberapa pasang sepatu yang ada di sana, pilihan saya jatuh kepada dia. Halloooo… 😀

Lumayan, ya, hasil kerja saya kemarin nampak hasilnya dengan beli sepatu baru (walau di rumah udah punya banyak sepatu)

Hehehehe...
Hehehehe…

Jadi, begitulah hasil jalan-jalan ke Grand Indonesia ala saya. Penting? Nggak. Tapi seenggaknya saya bisa menuliskan cerita yang nggak jelas ini buat dibaca sama kamu. Begitu aja deh cerita random-nya. 😛

___

Bekasi, 9 April 2014

Advertisements

One thought on “Jalan-jalan ke Grand Indonesia Ala Bella

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s