Sebenarnya ini postingan yang telat banget ditulis, tapi berhubung aku memegang prinsip, ‘lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali’, makanya aku menuliskan ini.

Tanggal 11 April yang lalu, bertempat di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Pecha Kucha Jakarta vol. 17 – Museum Magnified diadakan. Buat yang belum tau apa itu Pecha Kucha, aku mau jelasin sedikit, ya (buka contekan). Menurut bio twitter-nya, Pecha Kucha adalah ‘A networking event where line-up of speakers present in 20 slides x 20 seconds. A night full of inspiration & ideas!’ 

Hadir ke acara Pecha Kucha sendiri adalah kali pertama buatku. Bersama Mput (iya kita udah kayak soulmate, berduaan terus), kami datang ke acara ini, sekaligus #KentjanDjakarta yang kesekian kali.

IMG_20140411_191159

Sesuai dengan tema Pecha Kucha tahun ini, Museum Magniefied, di sini membahas tentang profil-profil museum yang ada di Jakarta oleh perwakilan museum. Ada beberapa speaker perwakilan museum, antara lain:

1. Museum Bahari (diwakili oleh Bapak Muhammad Isa Ansyari)

Beliau sedang menjelaskan apa yang ada di Museum Bahari
Beliau sedang menjelaskan apa yang ada di Museum Bahari

Saya sering sekali datang ke Kota Tua, tapi tidak pernah sekalipun menjejakkan kaki di Museum Bahari. Hiks. Di Museum Bahari ternyata kondisinya tidak jauh lebih baik daripada bangunan-bangunan yang ada di Kota Tua. Oh, ya, di sana pun sering menjadi lokasi pre-wedding.

2. Museum Basoeki Abdullah (diwakili oleh Bapak Dian Ardianto)

IMG_20140411_192713

Basuki Abdullah mungkin bukan nama yang asing. Ya, dia adalah salah satu pelukis maestro Indonesia.

Museum Basuki Abdullah dulunya adalah kediaman dari almarhum sendiri, jadi di sana kalian bisa melihat ruang tidur, ruang pribadi, maupun koleksi benda-benda yang berhubungan dengan Basuki Abdullah semasa hidupnya. Penataan koleksinya pun disesuaikan dengan keadaan aslinya.

Alamat Museum Basoeki Abdullah:

Jalan Keuangan Raya No. 19, Cilandak Barat – Jakarta Selatan

3. Museum Prangko Indonesia (diwakili oleh Bapak R. Mohammad Rizal)

IMG_20140411_193313

Salah satu speaker favorit saya. Beliau menceritakan sedikit tentang sejarah perangko, perangko pertama di Indonesia, serta perkembangan perangko sampai sekarang. Ternyata masih ada juga lho kumpulan pecinta filanteli. Saya pikir sudah tergerus oleh waktu. -_-

Museum perangko ada di dalam kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

4. Museum M.H Thamrin (Museum Joang ’45) (diwakili oleh Bapak Imron)

Dari semua museum yang ada, sepertinya ini kondisi museum yang paling menyedihkan. Bayangkan saja, dalam seminggu museum ini hanya dikunjungi oleh 40 orang. Bayangkan 40 orang dalam seminggu, berbanding terbalik dengan kedatangan orang-orang di mall atau pusat hiburan lainnya.

Memang sih, harus aku akui, kalau dilihat dari slide yang ditampilkan, museum ini sama sekali tidak menarik. Maksudnya, dalam museum itu jadul sekali. Namun sekarang, katanya museum sekarang sedang dalam tahap renovasi. Semoga makin bagus dan meningkatkan kunjungan ke museum.

Coba, ya, gimana rasanya jadi Bapak Thamrin ini kalau beliau masih hidup. Seakan perjuangan tidak dihargai oleh generasi sekarang.

Alamat Museum MH Thamrin:

Jl. Menteng Raya No. 31, Jakarta Pusat.

5. Museum Perumusan Naskah Proklamasi (diwakili oleh Bapak Jaka Perbawa)

IMG_20140411_194854

Speaker yang muda dari semua speaker yang ada. Dengan semangat berapi-api, Mas Jaka Perbawa (biar akrab), menjelaskan tentang Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang dikelolanya. Kalau saya perhatikan sih, museum ini yang paling ‘modern’ dan interaktif dibandingkan museum sebelumnya. Waktu acara, aku mendapatkan 2 pamflet berupa tentang museum Perumusan Naskah Proklamasi serta biografi singkat dari Sukarni Kartodiwirjo (yang nggak tau silakan googling).

Alamat Museum Perumusan Naskah Proklamasi:

Jl. Imam Bonjol No. 1 Jakarta Pusat

6. Museum Asmat (diwakili oleh Ibu Maria Virgorinaa Risetyawati)

IMG_20140411_195634

Suku Asmat adalah suku yang ada di Papua yang terkenal dengan kerajinan dan keseniannya. Di Museum Asmat, kalian bisa melihat keseluruhan tentang Suku Asmat tanpa jauh-jauh pergi ke Papua. 😛

Museum Asmat ada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah.

7. Open Air Museum Kota Tua (diwakili oleh Bapak Gathut Dwihastoro)

IMG_20140411_201042

Ah, ini mah nggak usah dijelasin karena pasti kalian sudah tahu tentang Kota Tua. Di sini, beliau menjelaskan sedikit tentang rekonsialisasi Kota Tua. Makanya, bila kalian memperhatikan ada beberapa bangunan yang sedang dipugar.

Kawasan Kota Tua yang akan 'diperbaiki'
Kawasan Kota Tua yang akan ‘diperbaiki’

8. Museum Mon Decor (diwakili oleh Mbak Aruma Sistha)

IMG_20140411_201727

Pernah datang ke Selasar Sunaryo, Bandung? Maka kalian akan menemukan rasa yang sama ketika datang ke museum ini. Karena dibangun oleh orang yang sama, Bapak Sunaryo. Ini sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai museum, tapi lebih sebagai art space dan galeri. Di sana, kalian bisa berfoto-foto maupun memamerkan hasil karya seni kalian juga lho.

Ada 4 speaker lagi dalam acara ini, seperti Museum Tekstil, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, serta Museum Harry Darsono. Namun sayangnya, kami hanya melihat sampai Museum Mon Decor, karena acaranya yang semakin malam, dan anak perempuan nggak boleh pulang larut malam. #dikepret

Secara garis besar, para perwakilan museum ini menceritakan suka-dukanya ‘menghidupi’ museum yang mereka kelola. Terlebih, karena minat anak muda akan sejarah yang makin menurun, serta image museum yang berkesan seram, bau apek, dan jadul. Ya, kan?

Miris sekali, ya. Aku jadi ingat waktu aku kecil, aku sangat ingin pergi ke museum. Tapi nggak pernah kesampean, karena orangtuaku lebih suka mengajak kami (aku dan adik-adikku) jalan-jalan ke mall daripada ke museum. 😦

Para speaker ini pun mengeluhkan hal yang sama, kurangnya perhatian pemerintah terhadap museum yang ada. Iya sih, aku mengamini ini. Beberapa kali aku berkunjung ke museum, banyak sekali yang harus diperbaiki.  Mereka semua berharap dengan adanya event Pecha Kucha ini, keluhan mereka terdengar sampai ke pihak atas. Semoga dengan aku menuliskan ini pun, banyak orang yang aware dengan keberadaan museum. Hihi… 😛

Overall, aku terenyuh dan berdecak kagum dengan perjuangan para pengelola museum ini. Mereka, berjuang dengan caranya mereka sendiri, mempertahankan museum yang ada di tengah era modernisasi seperti sekarang.

Semoga… Semoga… Semoga… para anak muda seperti kami berdua (pose ala Cherrybelle) dan kalian membaca tulisan ini semakin sadar pentingnya sejarah dalam kehidupan. Karena, tidak ada Indonesia hari ini tanpa perjuangan para pahlawan di masa lalu. Apalagi, ada keaslian sejarah yang selama ini kita tahu, sudah banyak dibelokkan.

Menurutku pribadi sih, memang sebaiknya museum-museum sekarang harus dibuat semenarik mungkin. Mungkin bisa mencontoh Taman Pintar Yogyakarta, di mana banyak permainana interaktif dan tampilannya tidak menyeramkan gitu.

Tapi, pasti kalau semakin modern sebuah museum, semakin bisa mahal juga tiket masuknya. Cuma, kualitas berbanding dengan harga sih nggak masalah. *ngomong naon mbak

Jadi, salah satu caranya adalah dengan datang ke museum. Yuk! 🙂

Kutipan menarik dari KI Hajar Dewantara
Kutipan menarik dari KI Hajar Dewantara
Advertisements

2 thoughts on “#KentjanDjakarta: Pecha Kucha Jakarta Vol. 17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s