Meski sudah sering jalan-jalan di sekitar Cikini, saya sama sekali belum pernah mencoba Bubur Ayam Cikini yang katanya lezat itu. Sampai akhirnya, hari Kamis kemarin, teman kantor saya yang bernama Wida mau menemani saya makan burcik (kepanjangan dari Bubur Cikini) abis pulang kantor.

Ternyata, Bubur Cikini itu sering banget sama lewatin. Mungkin benar apa kata pepatah, kuman di seberang lautan tampak, gajak di pelupuk mata tak tampak. Begitulah analoginya.

Tempatnya berada persis di samping stasiun Cikini, atau di sebelah KFC Cikini (tidak persis di sebelah sih, melainkan ada sebuah jalan kecil yang memisahkan). Tempatnya kayak rumah biasa dengan nuansa serba hijau. Sekilas, saya tampak familiar dengan tempat ini. Ya, bukan saja karena beberapa kali saya lewatin sih, tapi menurut keterangan Wida di sana pernah jadi lokasi syuting 5 CM, di bagian perkenalan itu. *tepok jidat

Harga di Burcik
Harga Minuman di Burcik
Harga di Burcik
Harga Makanan

Ketika kami makan, Burcik tidak terlalu ramai. Ada beberapa orang yang sedang makan. *yaiyalah bel namanya juga tempat makan. -_-

Saya dan Wida memesan bubur ayam telur dan tambahan sate ati ampela untuk Wida. Sembari menunggu pesanan kami, ada beberapa pengamen dan anak-anak yang menjajakan tisu yang datang menghampiri. Agak sedikit menganggu sih, tapi apa mau dikata, namanya juga bukan rumah makan mewah.

Selain itu, ada kejadian yang juga lucu. Tiba-tiba, saya dihampiri oleh seorang laki-laki yang memakai tas selempang, lalu bertanya, “Ini harganya berapa, ya?”

Saya pun mengangsurkan buku menu ke si bapak, dia mengangguk-angguk sebentar, lalu pergi gitu aja. Mungkin cuma survey harga.

Akhirnya pesanan bubur ayam telur kami tiba. Wow… mangkoknya besar juga. Sekilas, bubur ayam telur ini tampak seperti bubur ayam yang dijual di abang-abang tiap pagi, namun kalau bubur ayam itu diaduk, saya menemukan ‘harta karun’ berupa kuning telur setengah matang. Rupanya itu rupa bubur ayam telur. Putih telurnya nggak tau ke mana. Kuning telurnya pun bulat sempurna, baru pecah ketika ditusukkan dengan sendok. Itu juga yang membuat bubur ini terasa gurih dan rasanya gak hambar.

Burcik tidak pakai santan, jadi aman buat yang lagi diet. Suwiran ayam, cakue, dan emping yang jadi pelengkapnya pun begitu lezat. Tapi sayangnya, untuk lidah saya cakuenya terlalu asin. Dan satu mangkuk bubur itu membuat kenyang perut. Alhamdulillah…

 

Penampakan bubur cikini yang legendaris
Penampakan bubur cikini yang legendaris
ini telurnya.
ini telurnya.

Penasaran sama semangkuk bubur Cikini? Sempatkan coba saja. Dekat banget kok dari Stasiun Cikini. Bahkan bisa berjalan kaki. 🙂

Advertisements

One thought on “Cerita di Balik Semangkuk Bubur Cikini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s