Beberapa waktu lalu, saya merasa sedang jenuh dengan rutinitas yang saya jalani sekarang ini. Kehidupan sosial saya rasanya agak sedikit terganggu dan rasanya sudah lama sekali saya tidak jalan-jalan. Senin – Jumat, saya bekerja di salah satu perusahaan e-commerce, sedangkan weekend rasanya malas sekali untuk pergi. Huhuhu…

Sampai akhirnya, kedua sahabat saya, Cecek dan Riry mengiyakan ajakan saya untuk pergi jalan-jalan, sekaligus menukarkan e-voucher Brazilian Pizza dari Pizza Hut, Sabtu (27/9) lalu. :p

Karena bosan dengan Bekasi dan Jakarta, kami pun memutuskan untuk pergi ke Bogor, sekaligus menemui si Cecek yang tinggal di Bogor coret.

Perjalanan pertama kami adalah ke Pizza Hut.

Hanya memesan Sensasi Delight untuk 2 orang, sekaligus menukarkan e-voucher (yang saya dapatkan gratis), kami bertiga sangat kekenyangan sekali. Brazilian Pizza sendiri sepertinya varian baru dari Pizza Hut. Rasanya enak dan kaya rasa. Kalian harus mencobanya. \m/

Brazilian Pizza
Penampakan Brazilian Pizza
IMG-20140927-WA0001
Selalu ada selfie dalam setiap kesempatan
Saya, Cecek dan Riry (si Cecek yang pake kerudung merah) masih jomblo lho
Saya, Cecek dan Riry (si Cecek yang pake kerudung merah) masih jomblo lho

Perjalanan kedua kami adalah ke Kue Unyil Venus yang sedang hitz di Bogor. Berbekal GPS yang ternyata salah (namanya juga cewek, maunya dimengerti), dan nanya-nanya sama tukang parkir, kami sampai juga di Venus.

IMG_20140927_152510
Roti Unyil Venus

Antreannya panjang banget. Terlebih masalah parkir mobil yang cukup padat.

antreannya -_-
antreannya -_-

Sampai di dalam toko, hidung saya mencium bau roti yang sedap dan nikmat. Saking sedap dan nikmatnya, sampai membuat eneg. Oh, ya, di situ kamu harus menulis pesanan kue unyilmu dulu dan mengantre seperti labirin di tempat yang sudah disediakan. Lalu, akan diberikan sebuah id card berupa nama pelayan yang akan melayani pemesanan roti unyil. Karena saya nggak mau ribet, saya pun meminta roti unyil campur saja tanpa custom. *halah

Harga roti unyilnya sendiri, Rp 1.500,00/buah. Nah, kemarin saya beli 20 buah roti unyil yang isinya macem-macem (yaiyalah namanya juga campur). Ada isi abon, sosis, deelel.

Di depan roti unyil Venus, juga banyak pedagang kaki lima. Salah satunya penjual kue ape ini. Tapi ingat untuk selalu bertanya harga, ya, kalau tidak harganya bisa ‘ditembak’ di tempat.

Area depan roti unyil Venus
Area depan roti unyil Venus

Setelah dua tempat kami datangi, ini tempat ketiga dan terakhir yang kami datang, Soto Kuning Pa’ Salam. Berdasarkan hasil penelusuran Google, Soto Kuning Pa’ Salam berada di Jl. Suryakencana (setelah perempatan Gg. Aut) seberang Bank Mandiri. Tempatnya sederhana, hanya sebuah tenda kaki lima di trotoar jalan. Tapi, jangan salah, tempat ini ramai sekali oleh orang-orang yang pengin mencicipi soto kuning khas Bogor ini. Termasuk saya dan Cecek yang belum pernah mencobanya.

Ingat kolesterol
Ingat kolesterol
Jeroan everywhere
Jeroan everywhere

Kalian dapat memilih beberapa potong daging atau jeroan sesuai selera. Mulai dari kikil, empal, paru, usus, otak, babat, dan lain-lain. Selain daging atau jeroan, di sana juga ada sate kentang manis, sate jengkol manis, emping jengkol, emping tangkil, dan perkedel.

Pak Iwan, anak dari Pak Salam (sumber : google.) (foto : pribadi)
Pak Iwan, anak dari Pak Salam (sumber : google.) (foto : pribadi)

Hal yang menarik adalah perkataan dari Pak Iwan Setiawan yang merupakan pemilik warung soto generasi kedua yang mewarisi dari ayahnya, Pak Salam, yang punya berbagai istilah untuk melayani pelanggannya. Misalnya ‘jengski’ yang berarti jengkol, maupun ‘sudah dimonitor’ yang berarti pesanan kita sudah tercatat di memorinya.

Penampakan soto kuning Pa' Salam punya Riry
Penampakan soto kuning Pa’ Salam punya Riry

Karena masih kekenyangan, saya dan Cecek makan berdua. Kami memesan empal, paru, kentang, dan lidah. Harganya cukup murah, hanya 24 ribu rupiah saja. Rasanya mirip seperti Soto Betawi, tapi warnanya agak kuning karena kunyit. Enak banget.

Hal yang menarik yang saya temukan di Jalan Suryakencana ini adalah plang parkirnya : Tarif Parkir Rawan Macet. Ini pertama kalinya saya lihat di Bogor, di Bekasi sih nggak ada yang kayak begini.

Tarif Parkir Rawan Macet
Tarif Parkir Rawan Macet

Setelah selesai, kami kembali ke rumah Cecek, bertemu orangtuanya juga, mengembalikan mobil, lalu berangkat bareng ke Stasiun Bojong Gede dengan motor (bonceng bertiga). Hahahaha… Berasa masih muda. :’))

Walaupun ini perjalanan ini singkat, tapi sungguh menyenangkan sekali. Setidaknya, saya sedikit dapat melupakan kejenuhan saya.

Advertisements

3 thoughts on “Jalan-jalan dan Makan-makan di Bogor

  1. Wah berarti aku pernah lewatin rumahmu ya? *ya kali *oke sip

    Iya, kalo gak salah soto pak yusuf yg terkenal, tapi temenku lebih senang soto pak salim. Aku ikut aja deh. Ga hapal Bogor (dan gak pernah hapal jalan)

    Wah, asik… *langsung bikin list panjang* tapi daripada kulineran, lebih suka sama city trip 😀 *ngelunjak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s