Tanggal 2 November kemarin, saya dan Harti, salah satu inspirator waktu Kelas Inspirasi Bandung, datang ke Festival Dongeng Indonesia 2014 yang diadakan di Museum Nasional, Jakarta. Tujuan untuk datang, tak lain dan tak bukan adalah karena penasaran dengan acara tersebut, sekaligus mengurangi rasa kejenuhan. Fufufu…

Poster Festival Dongeng Indonesia 2014

Sampai di museum, saya sempat celingak-celinguk sendiri, mencari keberadaan Harti yang ternyata datangnya bersamaan dengan saya tiba. Di museum, juga sudah ramai oleh keluarga yang berkeliling, dan acara Festival Dongeng ini diadakan di dalam museum yang dilalui oleh orang-orang. Saat kami tiba, ternyata kak @aiodongeng sudah memulai pertunjukkannya. Anak-anak dan orangtua juga sudah menempati venue.

IMG_20141102_094205
kak @aiodongeng
Antusiasme anak-anak
Antusiasme anak-anak

Dia bercerita tentang kerajaan-kerajaan gitu. Ada patih, pangeran, dan putri. Anak-anak yang menonton dibuat terhibur, termasuk saya juga. Walaupun saya dan Harti tidak mendengarkan dongengnya sampai selesai, karena terlalu crowded, hingga kami pun memutuskan untuk berkeliling museum sebentar dan menonton acara itu lagi.

Setelah berkeliling sebentar, kami menonton festival dongeng lagi. Banyak pendongeng yang bercerita. Asik dan seru banget. Apalagi mereka berhasil membawakan suasana yang menghibur dan gembira. Saya rasa kalau saya yang disuruh mendongeng, pasti akan gagal. Bagian pertunjukkan yang saya suka adalah pertunjukkan boneka yang membahas tentang Timun Mas dan Buto Ijo yang menggunakan boneka. Alur ceritanya berubah, karena ternyata Buto Ijo itu vegetarian. :))

Pertunjukan Timun dan Buto Ijo
Pertunjukan Buto Ijo
Foto bareng sama Dongeng Boneka Winni dan Winna (foto : Harti)

Bagian yang membuat cukup miris adalah saat salah satu pendongeng mengajak anak-anak untuk bernyanyi. Lagu yang diputar adalah lagu Tasya – Berkumpul. Tidak ada yang tahu lagu tersebut, selain orang dewasa.

Lagu diputar, “Ayo kawan, ayo berkumpul. Berkumpul bersenang-senang, semuanya…”

Mereka hanya diam. 😐

Lalu saat lagi asik mendengarkan dongeng, tiba-tiba sesosok laki-laki berpakaian hitam, kumis panjang dan topi blankon-nya datang memasuki ruangan panitia. Dialah Pak Raden. Dia duduk di kursi roda dan dibantu oleh beberapa orang asisten untuk masuk. Bulu kuduk saya langsung merinding tahu nggak, karena bisa melihat sosok legenda itu dari dekat. Saya langsung ngomong gini ke Harti,

“Ti, pokoknya kita harus liat Pak Raden ngedongeng, ya.”

Pak Raden ketika tiba (foto : Harti)

Sembari menunggu Pak Raden mendongeng, kami sempat keliling bazaar yang ada di sana dan membeli bubur manado yang cukup enak. Belum selesai makan, ternyata sudah waktunya Pak Raden beraksi, membuat kami terburu-buru menghabiskan makanannya.

Ketika para MC memberikan ciri-ciri Pak Raden, anak-anak nggak bisa jawab juga dong. Mungkin sosoknya tidak terlalu terkenal seperti Unyil. Sampai anak sebelah saya bertanya seperti ini kepada orangtuanya,

“Ma, itu Pak Raden beneran?”

“Iya, itu Pak Raden. Yang ada di tokoh si Unyil.”

Panggung disiapkan khusus untuk Pak Raden. Dengan meja yang dilapisi taplak putih. Pak Raden pun dibantu oleh asistennya untuk mendongengkan cerita. Namun ada satu hal yang membuat saya sedih. Dongengnya tidak didengarkan oleh mereka yang ada di sana. Karena semuanya sibuk untuk mengambil foto Pak Raden yang sedang mendongeng, sehingga menutupi penonton lain (termasuk saya) yang ada di belakang. Saya liat, panitia pun tidak mencoba untuk membubarkannya. Saat melihat itu, saya mau nangis. Nggak kebayang perasaan beliau yang bersusah payah untuk mendongeng tapi tidak didengarkan. 😦

Pak Raden dari atas panggung (foto : Harti)
Kira-kira seperti ini keriuhannya
Kira-kira seperti ini keriuhannya

Saya juga cerita tentang hal ini ke Mbak Wahyu, yang membuat saya makin mbrembes mili.

Pak Raden itu memutuskan buat nggak menikah. Sekarang di rumahnya cuma dibantu sama asistennya aja. Udah gitu, Daniel Mananta (owner Damn! I Love Indonesia) pernah buat seri baju Pak Raden yang penjualannya disumbangkan buat beliau. Tapi penjualannya malah nggak terlalu laku. Padahal kaosnya cukup bagus.”

*

Di balik kekurangan dan kelebihan acara ini, saya cukup terhibur sekali. Setidaknya ini sedikit membangkitkan kenangan masa kecil saya yang suka membaca buku dongeng. 🙂

_

Bekasi, 3 November 2014

Advertisements

One thought on “Datang ke Festival Dongeng Indonesia 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s