Saya termasuk orang yang senang dengan sejarah, dan dari kecil pengin banget keliling museum yang ada di Jakarta. Tapi, berhubung orangtua saya tidak ada yang suka mengajak anaknya rekreasi ke museum (mereka senangnya mengajak saya ke Mall), jadi saya hanya membayangkan seperti apa museum dari buku sejarah yang saya baca. T.T

Beruntung, keinginan saya untuk menjelajah museum tidak pernah luntur. Ha… Ha… Ha… Dan minggu kemarin, pertama kalinya saya ke Museum Nasional a.k.a Museum Gajah, yang biasanya cuma saya lewatin untuk menghadiri Festival Dongeng.

Museum Nasional (www.streetdirectory.com)

Berbekal uang Rp 5.000,00 saja, saya sudah bisa keliling museum yang penuh dengan koleksi sejarah, lho.

Sekilas Tentang Museum Nasional

Dari website resminya, Museum Nasional didirikan untuk menyimpan berbagai macam koleksi miliki sebuah himpunan yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 24 April 1778.

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) merupakan lembaga independen yang didirikan untuk tujuan memajukan penetitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah, serta menerbitkan hasil penelitian.

Awalnya koleksi BG disiapkan di Jalan Kalibesar, di rumah salah seorang pendiri lembaga ini, JCM Radermacher. Namun, karena koleksi BG semakin bertambah banyak, hingga pada tahun 1862, pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung museum baru di lokasi yang sekarang, yaitu Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 yang sekarang kita kenal dengan Museum Nasional.

Koleksi Museum Nasional

Buat kalian yang suka sejarah, pasti bakal dimanjakan banget kalo dateng ke Museum Nasional. Berbeda dari museum-museum di Kota Tua, yang keliatan menyeramkan dan tua banget, museum nasional terkesan lebih modern dan begitu terawat.

Kalau saya tidak salah, ada 3 lantai museum yang menawarkan koleksi yang berbeda. Alamak, saya seperti anak kecil yang mendapatkan sesuatu yang dia mau. Saya mengitari setiap sisi museum, membaca satu per satu keterangannya dan membayangkan orang-orang zaman dahulu sepertinya jauh lebih pintar daripada orang zaman sekarang, walaupun teknologinya terbatas.

Replika Manusia Purba di Museum Nasional
IMG_20141102_100527
Salah satu koleksi Museum Nasional
IMG_20141102_100657
Dilarang Pegang, dan jangan nakal untuk memegang
Bahasa Sansekerta
Bahasa Sansekerta
IMG_20141102_101132
Entah ini jejak kaki siapa, karena tidak ada keterangannya
IMG_20141102_101240
Salah satu koleksi museum yang ‘dipinjam’
IMG_20141102_101637
Atlas Peta Dunia
IMG_20141102_101830
Timbangan untuk mengukur hasil bumi

Tidak hanya di tiga lantai itu saja, masih ada sisi lain museum yang saya jelajahi. Walaupun, dari koleksinya tidak banyak yang membuat saya tertarik, karena penataannya yang biasa saja. Ya, seperti tipikal museum pada umumnya. 😐

Oh, ya, untuk melihat penjelasan lain perihal koleksi Museum Nasional, kalian bisa membuka tautan yang ini.

Kesan-kesan ke Museum Nasional

– Setiap lantai di museum, ada satpam yang berjaga. Tapi sayangnya, mereka kayak nggak niat menjaganya gitu, pasang muka jutek dan sama sekali nggak ramah.

– Masih banyak orang-orang yang tidak menghargai koleksi yang ada, termasuk orang dewasa. Sudah jelas-jelas ada tulisan ‘Dilarang Pegang’ eh dipegang juga, dan satpamnya tidak menegur. Huh… *coretin mukanya.

– Selama saya dan Harti berkeliling, kami sama sekali tidak menemukan tempat sampah. Hah… Untungnya orang-orang punya kesadaran buat nggak buang sampah sembarangan, karena mungkin sadar kalo mereka diawasi oleh satpam.

– Menurut saya, museum ini juga sudah pro untuk para disabilitas, karena ada fasilitas lift dan koleksinya cukup rapi. Sayangnya, masih agak kurang sedikit, karena mungkin harusnya ada ruang audio khusus untuk mereka.

– Ada banyak koleksi museum yang tidak memiliki keterangan, sehingga membingungkan saya nama dan untuk apa benda tersebut. Ya, masa saya harus main tebak-tebakan.

– Alangkah lebih baik bila ada guide yang dapat menjelaskan perihal koleksi museum, karena bisa jadi banyak pengunjung yang malas membaca keterangan. Kalau saya pribadi sih rela bayar sedikit lebih mahal untuk membayar jasa guide, asal harganya nggak ‘ditembak’ aja kayak waktu saya ke Lawang Sewu.

Yuk, main ke museum!!! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s