This is how i spent my long weekend a week ago. Going to Padang and join #KelanaRasaMinang with Mas Arie Parikesit. 🙂

Yap, memanfaatkan waktu libur, harpitnas, sekaligus ‘ngambil’ jatah cuti, tanggal 19-22 Februari kemarin, saya akhirnya bisa ‘keluar’ juga dari Pulau Jawa dan ke Pulau Sumatera dalam rangka tur kuliner sambil jalan-jalan. Huehehehehe…

Dengan menggunakan pesawat (ya masa naik baling-baling bambu), perjalanan ke Padang memakan waktu sekitar 1.5 jam. Untunglah waktu kami tiba, cuaca bersahabat banget, padahal pagi hari tadi sempat hujan cukup deras.

Selamat datang di Padang. *Dalam hati teriak kegirangan*

Capture

Banyak hal yang saya pelajari dan kagumi dari kota ini. Ada beberapa hal yang saya catat di akun Path saya tentang Padang (brb disalin ulang), di antaranya :

1. Budaya dan filosofi yang cukup kental dan masih terjaga dengan baik.

Bahkan ada juga yang baru saya dengar dari mulut tour guide kami, Uda Odi.

Misalnya, nama Minangkabau itu tak bisa lepas dari legenda zaman dulu. Konon, waktu itu Kerajaan Majapahit ingin menginvasi Kerajaan Padang untuk menjadi daerah kekuasaan mereka. Tapi oleh raja yang berkuasa di sana, mereka tidak mau melakukan peperangan karena akan banyak memakan korban. Hingga akhirnya kedua kerajaan itu mengadakan adu kerbau untuk menentukan siapa yang berhak atas daerah itu.

Kerajaaan Majapahit pun berusaha untuk memenangkannya, sampai-sampai mereka membawa seekor kerbau yang didatangkan langsung dari Jawa, yang besarnya seperti gajah. Tidak lupa mereka merawatnya sampai cukup kuat.

Hal ini tentu membuat raja ketar-ketir, hingga mereka pun meminta pendapat oleh pemuka adat. Ya, namanya juga Orang Padang yang banyak akal (maka plat nomornya BA yang merupakan singkatan dari Banyak Akal, kata Uda Odi), mereka hanya ‘memakai’ bayi kerbau sebagai lawannya.

Singkat cerita, pertempuran dimenangkan oleh Raja Padang dan pasukan Majapahit pun kembali dengan tangan hampa. Kok bisa? Rupanya bayi kerbau itu tidak diberi makan selama beberapa hari sehingga saat melihat kerbau Majapahit, dia mengira itu ibunya. Dan di badan si bayi, sudah dipasangi dipasangin tanduk di kepalanya sehingga melumpuhkan si kerbau besar.

Makanya Minang Kabau sendiri berarti kerbau yang menang.

2. Atap rumah di sana pun kebanyakan dari seng.

Ternyata itu ada juga alasannya. Itu dikarenakan di Padang sering terjadi gempa, dan salah satu material paling ringan untuk menutup atap adalah seng, Selain itu, masyarakat Minang sendiri percaya, mereka tidak mau tinggal di bawah tanah sebelum mereka meninggal. #ifyouknowwhatimean

3. Ada perbedaan antara Orang Padang dan Orang Minang

Kalau selama ini kamu sering mendengar ada yang marah dibilang orang padang, karena dia sebenarnya orang minang, ataupun sebaliknya, memang ada perbedaan antara dua frasa itu. Halah.

Orang Minang berarti penduduk asli yang memang lahir, tingggal, dan menetap di sana. Ibaratnya mereka itu adalah pribuminya Padang. Sedangkan Orang Padang itu pendatang yang tinggal di sana, seperti orang-orang Pariaman yang merupakan keturunan India. Mereka adalah transmigrannya.

4. Pemandangan alam luar biasa cantik

Saya yang bisa dibilang ‘buta’ tentang Padang, dibuat terkagum-kagum dengan pemandangan alamnya. Alamnya mirip-mirip kawasan di  Jawa Barat, tapi yang ini masih perawan, belum terjamah oleh banyak tangan. Salah satu tempat yang saya datangi adalah Lembah Harau, Pantai Carlos, dll.

5. Cuma ada dua kata untuk makanan di Padang

Menurut Kak Hesty (atau Mas Arie, ya?) makanan di Padang itu cuma 2 : enak dan enak banget. Dan saya mengamininya. Dari semua makanan yang saya coba selama #KelanaRasaMinang kemarin, emang cuma enak dan enak banget rasanya. Makanan yang saya suka sih, gado-gado Padang. Itu enak banget. Terus sekarang standar masakan Padang saya jadi tinggi. ._. *lap iler  *sebulan puasa makan nasi padang

6. Banyak ‘wajah’ Gubernur Sumbar 

Salah satu baliho
Salah satu baliho

Entah saya yang terlalu iseng memperhatikan, atau memang iya ada banyak sekali wajah Gubernur Sumbar yang terpasang di baliho besar. Ada anjurannya untuk makan ikan, merawat terumbu karang yang sehat dan banyak lagi.

7. Nama makanan unik dan gak biasa didengar

Ada nama panganan yang diambil dari nama daerah penghasilnya, ada juga dari nama penemunya. Seperti Sinjay, yang selama ini kita kenal sebagai keripik, ternyata itu merupakan daerah asal keripik itu. Lalu ada juga pical si Kai, yang merupakan nama peracik makanan itu, Kairunisa.

8. Banyak petunjuk jalan untuk evakuasi

Berhubung Pada pernah diguncang gempa dan Tsunami beberapa tahun yang lalu, jadi ada banyak petunjuk jalan untuk evakuasi bila sewaktu-waktu terjadi lagi.

9. Serambi Mekah nggak cuma di Aceh

Di Padang, tepatnya Padangpanjang, julukan Serambi Mekah juga tersampir lho.

10. Telur Penyu masih dijual bebas

Saat melintasi daerah Pantai Padang, ternyata ada banyak warung makan yang menjual telur penyu sebagai sajian mereka. Padahal telur-telur penyu itu tidak boleh dicuri, apalagi dimakan. Saat saya keluar dari bandara pun, ada x-banner yang berisi himbauan untuk tidak makan telur penyu. Sedih sekali, ya. 😦

11. Ke Padang nggak cukup 4 hari

Iya, saya ngerasanya sih 4 hari itu begitu singkat, karena ada banyak tempat yang belum sempat dijelajahi. Bahkan kata Mput kira-kira begini,

“Aku aja yang 19 tahun tinggal di Padang, rasanya kurang lama sis, apalagi kamu yang cuma 4 hari.”

*

Itu tadi kira-kira yang saya rasakan selama di Padang. Lalu apa saja yang saya dan peserta #KelanaRasaMinang lakukan selama 4 hari di Padang? Tunggu postingan berikutnya, ya. Saya mau semedi dan ngorek-ngorek ingatan dulu. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s