Beberapa hari kemarin, saya terpaksa lembur, melewatkan jam-jam pulang seperti biasanya demi tugas negara. Halah.

Keluar kantor tercepat itu pukul 8 malam, dan yang paling lama dan memecahkan rekor lembur saya sejauh ini adalah pukul 10 malam kurang.

Sampai-sampai saya harus melewati lobi kantor, karena pintu belakang sudah terkunci, serta jalur khusus pejalan kaki sudah ditutup, sehingga saya harus melewati jalan yang biasa hanya khusus untuk kendaraan.

Ya, selarut itu saya pulang. Itu pun juga terjadi saat pertengahan minggu, bukan di akhir, yang membuat bagian bawah mata semakin hitam dan menguap sambil menahan kantuk keesokan harinya.

Saya memutuskan untuk naik taksi ketimbang naik commuterline. Bukannya sok kaya, tapi saya merasa jauh lebih aman naik taksi ketika malam sudah meninggi seperti itu.

Saya minta tolong kepada satpam yang bertugas untuk mencarikan taksi biru, bukan taksi lain, dengan alasan ‘pesan mama’ yang meminta saya untuk naik taksi biru kalau terpaksa harus naik taksi.

Beberapa taksi lain, ojek, bajaj yang lewat memanggil-memanggil saya untuk menjadi penumpang. Tapi saya bergeming, bukan itu yang saya cari.

Hampir 10 menit saya menunggu dengan gelisah. Bagaimana kalau taksi biru tidak ada juga? Apakah saya harus berjalan sedikit ke arah stasiun dan mencegat taksi dari sana? Atau naik commuterline saja?

Sampai kegelisahan saya terjawab ketika seorang satpam menegur saya,

“Bu taksinya udah ada. Lagi jalan ke sini.”

Alhamdulillah, ucap saya dalam hati. Saya pun mengucapkan terima kasih kepada pak satpam, meski dia memanggil saya dengan sebutan yang tidak saya suka. Ibu.

Tak berapa lama, taksi biru datang.

Saya langsung membuka pintu belakang dan mengatakan, “Bekasi ya, pak” sambil  duduk dan membiarkan taksi melaju di jalan yang sudah lengang.

“Kita mau lewat mana, ya, mbak?” tanya sang supir.

Saya yang sudah cukup lelah dan tidak tahu jalan ini memberikan jawaban diplomatis,

“terserah bapak aja.”

Rasanya saya melihat bapak supir mengulas senyum. “Kita lewat jalan biasa aja ya, mbak. Kalo lewat tol macet banget.”

Saya mengangguk.

Beliau lalu berkata lagi, “mbak percaya sama saya, kan? Saya juga di bekasi kok.”

Binggo. Betapa beruntungnya saya.

Bapak supir berusaha mencairkan suasana.

“Mbak, satpam tadi yang nyari taksi ini orang Ambon ya?”

“Wah, saya nggak tau, pak. Emangnya kenapa?”

“Soalnya logatnya masih berasa, mbak. Tadi saya diberhentiin trus satpam itu bilang, ‘ini bubet ya. Bubet… Ada yang mau nyewa’.”

Saya terkekeh. Membayangkan satpam itu sambil ngomong bubet… bubet… :))

Tak lama setelah itu, dia menaruh tangan kirinya di depan AC dan bertanya,

“Dinginnya udah cukup belum mbak?”

Saya yang setengah tersadar itu langsung melek dan menjawab iya udah kok, pak.

Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Bapak supir membawa saya melewati Stasiun Gambir, Gereja Katedral yang berpendar cahaya serta jalan-jalan lain yang tidak tahu apalagi.

Di situ saya juga melihat purnama yang sangat cantik sekali, bulan sempurna seperti telur kuning mata sapi, yang diselimuti oleh awan yang mendung.

*

Taksi lantas melewati daerah Jatinegara, membuat saya bernostalgia dengan kenangan ketika menghabiskan masa kecil di sana sebelum pindah ke rumah yang sekarang saya tempati.

Saya antusias bercerita kepada si bapak yang mendengarkan apa tidak, bahwa dulu saya pernah tinggal di Jatinegara, sering berjalan kaki bareng papa hanya sekadar ke pasar kaget di sana. Ah, saya selalu antusias menceritakan tentang masa kecil saya di sana, yang sekarang sudah berubah total, bukan seperti yang dulu saya tempati dan saya tinggal saat terakhir kali.

Beliau kemudian bergantian cerita, kalau dia juga sempat tinggal di Manggarai sebelum akhirnya pindah ke daerah Tambun, Bekasi, pada tahun ’90.

“Nggak baik besarin anak di Jakarta, mbak. Makanya saya milih pindah sekeluarga,” begitu katanya.

Dan beliau yang lebih banyak bercerita sepanjang perjalanan pulang. Saya mencoba untuk menjadi pendengar yang baik, sambil terkantuk-kantuk.

Kadang dia juga sempat bertanya pada saya,

“Mbak kenapa milih naik taksi biru?”

Saya diam sebentar. Saya katakan saya karena ini pesan mama untuk selalu naik taksi biru.

Beliau nampaknya belum puas dengan jawaban saya yang seperti itu. Lalu dia mengatakan bahwa tempatnya ini memiliki pelayanan terbaik. Bahkan kalau ada barang yang tertinggal di taksi, penumpang bisa mengambilnya di pool, asal ingat nomor pintu taksi saja.

Lalu semua terhubung dengan internet. Seperti kondisi hari itu, di mana tol macet luar biasa sehingga banyak supir taksi yang tidak mau membawa penumpang keluar dari tutorial mereka.

*

Bapak supir taksi ini baru bekerja di perusahaan taksi biru selama 3 tahun setelah sebelumnya bekerja sebagai supir di salah satu perusahaan di Cikarang. Dari ceritanya, saya bisa menduga kalau dia senang bekerja di tempatnya yang sekarang, karena lebih memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Walaupun, perjalanan yang dia tempuh dari rumahnya pun cukup jauh, dari Tambun ke Rawa Lumbu.

Beliau sebenarnya sudah meminta untuk pindah, namun belum dipenuhi. Karena kapasitas mobil di sana tidak sebanding dengan jumlah supir yang ada.

“Di Rawa Lumbu itu termasik pool terbesar di Bekasi, Mbak. Di sana muat sampe 1300 mobil, tapi yang beroperasional cuma 700 mobil aja,” terangnya.

Saya pun nyerocos, “Kok gak nginap di mess aja, pak? Kan biar nggak capek bolak-balik terus.”

Saya ingat kalau ada fasilitas mess untuk para karyawan dari supir taksi biru yang pernah saya tumpangi lalu.

“Ah, mbak. Seenak-enaknya mess juga enak rumah sendiri. Apalagi saya ini udah berkeluarga, punya anak. Liat anak udah tidur lalu kecup keningnya juga jadi obat capek, mbak.”

Padahal saya cuma penumpang yang entah kapan menjadi penumpangnya lagi, tapi seakan-akan saya sudah lama mengenalnya sehingga tahu sebagian cerita hidupnya.

*

Dari beliau, saya juga menjadi tahu untuk membedakan taksi Bekasi.

“Liat aja nomor pintu taksinya, mbak. Kalo taksi bekasi biasanya  GJ, GU, MMM, atau GMX. Kan, kalo naik taksi bekasi enak mbak. Bisa tidur sambil nunggu dibangunin kalo udah deket rumah,” cerocosnya.

Saya tersenyum. Bersyukur karena saya lembur, membuat saya naik taksi, dan mendengar cerita sang supir selama kurang lebih satu jam perjalanan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s