Ke mana kalian menghabiskan waktu libur Lebaran? Mudik ke kampung halaman, ke rumah calon mertua, atau hanya berdiam diri di rumah saja? Apapun itu, setidaknya kita tidak kehilangan esensi dari makna Idulfitri itu sendiri; menjadi manusia baru.

Sehari sebelum lebaran, saya dan keluarga besar, liburan ke Garut. Jalanan sungguh sangat bersahabat sekali *nyengir* Perjalanan Subuh dari rumah, akhirnya baru sampai sore di hotel. Fyuh… Ketemu kasur abis perjalanan jauh itu menyenangkan, ya.

Namun, saya tidak ingin menceritakan liburan saya ke Garut. Tidak ada yang bisa diceritakan juga, selain jalanan yang macet, dan Garut yang berubah banyak sejak terakhir saya ke sana.

*

Selesai Salat Id, sarapan, dan berkemas, kami meninggalkan Garut. Lho kok cepat? Ya, maklum soalnya menghindari arus balik lebaran dan keesokan harinya Bapak harus melanjutkan tugasnya lagi.

Oke, cerita berlanjut…

Masuk setengah perjalanan, kami memutuskan untuk makan siang di Rest Area KM 97 Tol Cipularang. Sempat bingung mau makan apa, akhirnya kami makan di Rumah Makan Ampera.

Eh, tapi inti ceritanya bukan yang ini juga sih. Melainkan ini.

Toilet di jalan tol kini tidak perlu bayar lagi alias GRATIS. Dulu, meskipun gratis ada juga yang meminta pungli, maupun ada juga pemakai yang memberikan uang kepada para petugas kebersihannya.

Nah, kami ke kamar mandi berjamaah. Lalu. Mama saya ingin memberikan sedikit uang untuk petugas kebersihan yang berdiri di depan pintu kamar mandi antara kamar mandi laki-laki dan perempuan.

“Kasihin, La,” katanya menyerahkan selembar uang pada saya.

Saya pun menghampiri petugas kebersihan itu.

“Ini, Mas,” ujar saya sambil tersenyum.

Gestur tubuh petugas kebersihan itu langsung berubah. Tangannya mengatup dan dia bilang begini, “Maaf, Bu. Toiletnya gratis…”

Saat mendengarnya saya merasa malu sekali. Jujur. Satu sisi, saya sangat menghargai bagaimana sikapnya untuk ‘menjaga’ pekerjaannya. Ya, kalau toiletnya gratis, begitupun petugas tidak boleh menerima tips. Di sisi lain, Mama saya agak nggak rela gitu kalau uang pemberiannya tidak diterima.

“Harusnya tadi kamu kasih aja.”

“Lho wong orangnya nggak mau.”

“Ya, kalo ditawarins sekali lagi pasti mau.”

#BebaslahMa. -___-

Lalu saya teringat tentang film Rayya : Cahaya di Atas Cahaya yang sempat saya tonton. Ada satu scene film yang diperankan oleh Titi Rajo Bintang yang mirip sekali dengan kejadian antara saya dan si petugas kebersihan.

Rayya sedang berjalan-jalan di daerah Lasem dan dia bertemu dengan nenek penjual kerupak. Dihampirinya penjual kerupuk itu.

“Ini apa, Nek?”

“Oh, ini kerak. Dari kerak nasi, Mbak.”

“Harganya berapa?”

“Seribu lima ratus…”

“Kalo gitu saya beli tiga, ya, Nek.”

Rayya mengambil tiga bungkus dari tempat yang si Nenek bawa lalu menyerahkan uang 50 ribu rupiah.

“Wah, Mbak nggak ada kembalinya…”

“Nggak apa-apa, Nek. Ambil aja.”

Lalu kamu tahu apa yang dilakukan Nenek itu? Dibalikkannya uang yang Rayya berikan, lalu diambilnya lagi tiga bungkus kerak yang dibawanya.

“Saya ini pedagang, Mbak. Bukan pengemis!”

Di adegan itu, saya merinding sekali.

Walaupun itu hanya cerita fiksi belaka, tapi kejadiaannya begitu dekat. Tentang bagaimana orang-orang yang berada atau bisa dibilang kelas menengah, sering mengganggap orang-orang yang dikatakanlah miskin, harus dibantu dengan uang. Padahal mereka tentu punya harga diri yang mereka junjung tinggi. Sama seperti tukang kerupuk dalam film Rayya, maupun petugas kebersihan yang saya temui itu.

Ya, tidak baik memang merendahkan seseorang bila hanya dilihat sekilas semata.2

Advertisements

6 thoughts on “Maaf, Bu, Toiletnya Gratis

  1. benar juga sih. kadang mau ngasih tapi memang tidak dipungut biaya, kalau gak ngasih malah ada rasa kasihan. 😦
    salut buat beliau, karena sudah jujur dalam bekerja. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s