Beberapa hari yang lalu, langit Pekanbaru, Riau, terasa begitu gelap karena diselimuti oleh kabut asap yang cukup tebal. Sehingga banyak aktivitas masyarakat di sana terganggu dan terpaksa diliburkan sementara. Udara di Riau pun sempat melampui ambang batas Pollutant Standar Index.

Masyarakat Riau yang ‘berteman’ dengan Asap Kebakaran Hutan

Setiap tahunnya, kebakaran hutan atau lahan di Provinsi Riau begitu sering terjadi. Akibatnya kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat terganggu dan hampir 6 juta warga Riau menderita gangguan napas akibat kabut asap pembakaran hutan. Kebakaran hutan rupanya sudah menjadi ‘teman’ masyarakat Riau sejak tahun 1997, Travel lads. Hal ini bermula dari adanya upaya instan dari seorang pemilik kebun yang hendak meluaskan areal pertaniannya dengan membakar hutan.  Dari upaya instan tersebut ternyata diikuti oleh beberapa perusahaan lainnya hingga merajalela sampai sekarang.

Pada tahun 1997 – 2008, memang tidak ada aturan atau undang-undang yang melarang perbuatan pembakaran hutan, sampai pada tahun 2009, pemerintah mengesahkan Undang-Undang (UU) Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mengatur hukuman terhadap pihak-pihak yang melakukan pembakaran lahan. Meskipun sudah ada aturan dan undang-undang yang jelas, namun kebakaran hutan terus terjadi dan menimbulkan ratusan titik api yang menyebabkan kabut asap seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

Titik-titik Api di Sumatera dan Riau

Tahukah Travel lads, berdasarkan pada penelitian yang dikeluarkan oleh Global Forest Watch terhadap pantauan titik api yang ada di Sumatera, ternyata titik api di tahun 2014 telah melampui jumlah titik api pada tahun 2013 yang lalu. Jika selama peride 13-30 Juni 2013, tercatat 2.643 jumlah peringatan titik api, maka pada periode 20 Februari–11 Maret 2014 saja telah terdeteksi 3.101 titik api.

Jumlah Peringatan Titik Api di Sumatera, Indonesia 1 Januari 2013- 12 Maret 2014. (Sumber: Global Forest Watch dan World Resources Institute)
Jumlah Peringatan Titik Api di Sumatera, Indonesia 1 Januari 2013- 12 Maret 2014.
(Sumber: Global Forest Watch dan World Resources Institute)

Dalam periode 4-11 Maret 2014, Provinsi Riau telah menyumbangkan 87% dari seluruh titik api yang ada di Sumatera. Adapun setengah dari peringatan titik api terletak di lahan yang dikelola oleh konsesi kelapa sawit, hutan tanaman industri dan hak pengelolaan hutan yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan besar.

Tebalnya asap akibat kebakaran hutan di bulan ini sempat mempengaruhi kualitas udara dan menyentuh berbahaya karena lebih dari 500 psi. Karena asap itu juga membuat jarak pandang lebih pendek. Bahkan, akibat kebakaran hutan di bulan ini, status Riau dinyatakan masuk dalam Kejadian Luar Biasa (KLB) .

Dampak terjadinya Kebakaran Hutan

Selama 30 tahun terakhir, hutan alam Riau hilang seluas 4.7 juta hektar akibat pembakaran hutan. Menyedihkan, ya, Travel lads padahal hutan di Riau termasuk pada kawasan Hutan Hujan Tropis di Sumatera.

Hutan Riau yang hilang dalam 30 tahun. (Sumber: http://www.mongabay.co.id/)
Hutan Riau yang hilang dalam 30 tahun.
(Sumber: http://www.mongabay.co.id/)

Tidak hanya hutan Riau yang hilang, dampak kebakaran hutan pun juga dirasakan oleh banyak pihak. Contohnya, gangguan pernapasan yang terjadi pada masyakarat, beberapa hewan yang kehilangan tempat tinggal, penerbangan yang terpaksa dibatalkan hingga pariwisata Riau yang terganggu.

Selain itu, dampak kabut asap juga berdampak pada ekosistem laut. Karena asap tersebut bisa mengurangi masuknya cahaya matahari yang memberi kehidupan bagi berbagai spesies ini, salah satunya adalah menekan aktivitas fotosintesis di terumbu karang.


Tulisan ini pernah dimuat pada Jelajah Valadoo, 2014.

Advertisements

6 thoughts on “Peduli Riau, Peduli Asap

  1. Pernah lihat di tv, kebakaran hutan di negara mana gt lupa, tp segera ditangani,
    La riau, sdh terlalu lama, dan blm jg ada penanganan yg berarti…
    Smoga bencana asap di riau segera berhenti, hilang tersapu hujan dr Sang Pemilik Alam *efek terlalu lama nunggu tindakan pemerintah

  2. semoga derita asap RIAU segera berakhir ya.. lama juga dari tahun 1997 rupanya sudah ada kebakaran,, cuman belum semarak saat ini… Aparat penegak hukumnya pada kemana aja… kok banyak terjadi pembiaran pembakaran lahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s