Source : Pinterest
Source : Pinterest

Barangkali mayoritas orang masih menganggap bahwa mereka yang bisa sampai di hadapan psikolog –atau bahkan psikiatri adalah orang yang sakit jiwa, jadi tidak banyak yang berani maju untuk datang, walau sebenarnya mereka sudah di tahap butuh bicara. Tidak bisa dipungkiri memang, tingkat stres penduduk kota besar itu sangat tinggi, terbukti dari penuhnya appointment psikolog di berbagai institusi.

Tahap awal untuk konsultasi biasanya dimulai dengan mendatangi psikolog klinis. Ada psikolog yang khusus menangani anak-anak atau perkara pernikahan, tapi rata-rata psikolog klinis itu umum –menerima pasien dari anak kecil hingga orang dewasa. Wah, anak kecil aja udah butuh psikolog? Iya, terkadang memang ada gunanya juga. Jangankan anak-anak, yang jiwanya masih susah dipahami, orang dewasa yang harusnya sudah bisa menyelami pikirannya sendiri saja, masih butuh ke psikolog kadang.

Kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk konsultasi ke psikolog?

Kalau menurut versi saya, ketika seseorang sudah tidak sanggup lagi menampung kemelut dalam kepalanya sendiri, tapi merasa tidak cocok bicara dengan orang-orang sekitar. Ketika kita merasa okay, I can’t handle this anymore. I really tired tapi juga sekaligus ingin bicara pada pihak netral, yang tidak mengenali kita sebelumnya, dan tentu tidak kenal pada tokoh-tokoh yang kita ceritakan.

Enaknya ke psikolog, mereka bisa menganalisis masalah dengan cepat, kemudian memberikan saran dengan lugas, tanpa berputar-putar. Walau pengalaman saya sendiri, mengeluarkan semua masalah dalam suatu waktu langsung bikin kepala jadi sakit. Saya pernah mengalami penurunan konsentrasi, kebanyakan tidur –karena saya pikir hanya itu satu-satunya cara agar saya dapat melupakan masalah, kurang selera makan, emosi naik turun, dan gejala-gejala melelahkan lainnya. Ketika saya bicara pada psikolog saya, rasanya seperti mengeluarkan setumpuk barang rongsokan dari dalam batok kepala. Saya jadi sangat pusing, walau akhirnya lega juga setelah selesai.

Psikolog saya selalu bilang, ketika kita sudah tahu apa masalahnya dan apa akibat-akibat yang akan ditimbulkan masalah itu (cepat atau lambat), maka what would you do about it?

Ada 3 jenis reaksi manusia ketika kena masalah:

  1. Fight: melawan masalah tersebut, berusaha bertahan untuk dirinya sendiri.
  2. Freeze: diam, dan tidak berbuat apa-apa.
  3. Flat: mungkin ini ada di antara fight dan freeze. Tahu bahwa masalahnya ada, berusaha untuk memeranginya, tapi tidak maksimal. Kadang hanya bisa lelah sendiri.

Saya seringkali berada di level ketiga itu, dan psikolog saya menekankan bahwa terkadang saya harus melakukan level 1 untuk beberapa masalah. Saya tidak boleh diam saja, bahkan menghindar. Mungkin karena kadang saya berpikir bahwa beberapa masalah sebaiknya dibuang jauh-jauh daripada saya yang membuang waktu saya untuk mengurus perkara tak penting. Intinya, tidak semua masalah harus dihadapi dengan fight, dan tidak semua masalah harus didiamkan pula. Jika menyangkut hak pribadi, bisa diperjuangkan dengan fight, jangan takut begini dan begitu.

Saya suka bicara pada psikolog saya. Beliau orang yang to the point, dan tentunya masih paham dunia saya –dunia anak muda. Saya tidak suka pada kalimat-kalimat yang menggurui, tidak mudah untuk meyakinkan saya dengan sebuah saran, tapi beliau mampu melakukannya dengan baik, dan tidak membuat saya merasa digurui.

Bagaimana dengan psikiater?

Biasanya, jika sebuah masalah membuatmu stres berat hingga menyerang fisik, dan psikologmu merasa tidak sanggup lagi menanganinya, maka kamu akan dirujuk ke psikiater, bahkan di psikiater kamu akan mendapatkan obat. Saya tidak paham obat apa saja, entah obat penenang atau semacamnya. Saya tidak pernah sampai ke level psikiater, karena sejauh ini gangguan-gangguan yang ada itu memang mengganggu fisik, tapi belum di tahap meremukkan. Hanya membuat pikiran jadi lelah dan hilang konsentrasi, atau kadang sakit-sakitan –sakit ringan, maksudnya.

Walau begitu, tidak ada yang salah dengan datang ke psikolog atau psikiater. Walau meamng kedua sosok tersebut identik dengan dunia kejiwaan –bahkan mereka kadang tidak praktik di rumah sakit umum, melainkan di rumah sakit jiwa. Seperti beberapa psikolog yang pernah saya baca profilnya, bekerja di Sanatorium Dharmawangsa Jakarta. Tidak ada yang salah, karena ketika kita butuh bicara, kita berhak mendapatkan hak untuk didengarkan. Siapa pun orang yang kita pilih untuk itu.

Saya juga tidak tahu bagaimana caranya memberi tips untuk memilih psikolog yang cocok. Saya melewati beberapa psikolog sebelum akhirnya membuat appointment dengan psikolog saya yang sekarang. Ya, mungkin sama susahnya seperti memilih kamar kos yang nyaman atau memilih pasangan hidup. Kamu harus benar-benar menyukai pilihanmu, karena padanya kamu menceritakan kisah hidupmu yang pribadi, bahkan rahasia. Segala beban yang tak bisa kamu ceritakan pada teman, orangtua, tetangga, bisa kamu ceritakan di hadapan psikologmu –karena apa yang kamu ceritakan bersifat rahasia sesuai etika profesi mereka.

Tarif psikolog?

Berbeda tergantung instansi tempat psikolog tersebut bernaung. Durasinya juga berbeda-beda. Ada yang mematok harga per 60 menit, ada juga yang per 90 menit. Tapi harus saya akui, rata-rata tarif konsultasi dengan psikolog di Jakarta sekitar Rp 300.000,- ke atas. Mungkin angka ini wajar bagi beberapa kalangan, namun masih agak gimana gitu buat kalangan lainnya. Bahkan untuk menjadi waras saja mahal, begitulah ibukota. Stresnya free, warasnya butuh biaya.

Berikut beberapa list tempat-tempat yang mungkin bisa jadi pilihan bagus:

  1. Sanatorium Dharmawangsa: Rp 250.000,- – Rp 500.000,- per 60 menit.
  2. Yayasan Pulih Pasar Minggu: Rp 100.000,- per 120 menit
  3. Eka Hospital BSD: Rp 110.000,- per 60 menit
  4. YPPI (Yayasan Praktek Psikolog Indonesia) Bintaro: Rp 500.000,- per 90 menit. Jika melewati 90 menit, tiap 30 menit kena Rp 100.000,-
  5. Rumah Sakit Medika Permata Hijau: Rp 250.000,- per 60 menit
  6. Rumah Sakit Husada Mangga Besar: Rp 300.000,- – Rp 700.000,- per 60 menit

(tarif bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan instansi masing-masing)

Jika konsultasinya lewat dari durasi tersebut di atas, biasanya ada biaya tambahan, tapi beda-beda tiap instansi. Harus langsung ditanyakan ke pihak terkait. In fact, ada banyak nama psikolog  di Jakarta, rata-rata lulusan luar negeri juga, dan saya tidak akan merekomendasikan siapa-siapa, karena memilih psikolog itu cocok-cocokan. Masalah kenyamanan. Jadi bisa langsung hubungi ke beberapa tempat di atas, lalu konsultasi lebih lanjut 🙂

Saya tipe orang yang tidak suka bau rumah sakit, karena menurut saya rumah sakit membawa aura kesedihan. Untuk itu, ada beberapa pihak yang menyediakan jasa konsultasi di luar lokasi mereka. Misalnya YPPI –yang bisa janjian di luar, tapi dengan kesepakatan lebih lanjut. Hanya saja, psikolog rumah sakit umum biasanya tidak melakukan ini, karena mereka punya jadwal praktik yang baku di rumah sakitnya masing-masing.

Nah, jadi jangan takut lagi untuk bercerita, entah pada siapa pun kamu merasa nyaman. Jangan sepelekan masalah, sekecil apapun itu. Kita tidak pernah tahu kapan ia akan berubah jadi masalah besar.

Hehe.


Tulisan dari Petronela Putri

Twitter : @kopilovie

Blog : petronelaputri.com

 

Advertisements

20 thoughts on “(Guest Post) Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Psikolog?

  1. pertama kali aku ke psikolog ketika SD. gak pernah tau hasilnya apa. mama dan psikolog gak ngomong apapun ama aku. aku hanya disuruh menggambar, ngitung, dan diajak ngobrol. selesai. dua atau tiga kali pertemuan trus aku protes karena merasa gak ada hasilnya. 😀

    dari kecil aku emang selalu “aneh” bagi orang yang ketemu.

    lupa kapan terakhir ke psikolog. zaman kuliah kalo gak salah. harusnya sekarang bikin temu janji lagi. usia segini, merasa banyak sekali yang “harus diluruskan” oleh psikolog…. atau bahkan psikiater? 😛

    thanks ya artikelnya, Bel. tau gak kalo di Bandung, rekomendasinya ke mana?

    1. aku juga selalu dianggap aneh sama temen-temen teh, bahkan sampai sekarang pun setelah aku merasa normal-normal aja. :’)

      Aku sendiri belum pernah ke psikolog, pengin tapi takut tapi kayaknya emang harus menyegerakan juga ke sana.

      Wah, kalau rekomendasi psikolog di bandung, aku kurang tau teh. Maaf, ya. 😦

  2. Terimakasih kaaa untuk blog nya, bermanfaat karna bisa dijadikan rekomendasi 😊
    Aku sangat butuh orang yg netral, karna ada hal yang tak bisa diungkap dengan orang terdekat

  3. Penjelasan anda cukup jelas dan membantu, setelah baca tulisan anda saya merasa apa yg anda katakan sama persis dgn pikiran saya dan saya jd agak lega krn tau anda mirip saya artinya saya bukan satu2 nya org yg punya pemikiran kompleks, shg membuat stress diri sendiri, dr tulisan anda saya yakin anda ini org yg pintar, rata2 org stress itu memang pintar hahahaha, saya yakin org yg komentar di sini org stress semua termasuk saya hahahaha btw terima kasih ya mbak, salam stress !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s