Aku sedang menikmati Cookies and Cream pada salah satu kedai kopi yang namanya diambil dari nama sungai di Jawa Tengah, membaca buku Lean In yang kubawa sambil sesekali melihat ponsel yang digeletakkan di atas sofa karena sedang diisi daya.

Ya, aku multitasking sekali memang. Persis seperti orang-orang zaman sekarang.

Kamu di mana?

Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel. Ah, rupanya dia sudah selesai beribadah. Aku buru-buru membalasnya.

Masih di tempat yang sama kok. Nggak ke mana-mana.

Oke.

Aku tidak membalas lagi. Tidak lama berselang dia datang. Aku menggeser posisiku supaya dia dapat duduk di sebelahku dengan leluasa. Kemudian dia memesan Americano Coffee dan kami sedikit terdistraksi dengan kesibukan masing-masing.

Aku kembali sibuk membaca sambil sesekali memerhatikan orang-orang yang berjalan di sekitar kami dan melanjutkan membaca buku dan menyesap minumanku yang sudah separuh habis. Sementara dia sibuk dengan ponselnya entah ‘berbincang’ dengan siapa.

Tahu-tahu rintik air datang tanpa babibu lebih dulu. Hujan turun dengan derasnya di hari itu. Setelah sebelumnya hanya memberikan tanda berupa langit kusam nan murung.

Aku menutup buku yang kubaca, memandangi orang-orang yang berjalan buru-buru karena takut kebasahan dan menggigil. Petugas kafe dan restoran yang ada di sekitar situ pun tidak kalah panik.

Mereka segera menggeserkan kursi-kursi yang ada di luar supaya tidak terkena basah. Ah,  tapi rasanya percuma juga karena seperti yang aku bilang, hujan datang tanpa babibu. Deras sekali. Lagipula atapnya terlalu kecil untuk menampung semua kursi yang ditaruh di luar.

Aku menaruh daguku di atas meja. Melihat sepasang kursi yang berada di depanku terkena hujan. Mereka tentu basah karena tidak sempat diungsikan atau memang sengaja dibiarkan turun basah terkena tampias hujan.

“Kasian, ya, kursi-kursi itu,” kataku kepadanya.

“Kenapa?” tanyanya yang tahu-tahu sudah menghisap sebatang rokok yang tidak kusadari sudah disulutnya.

“Ya, kasian aja. Teman-temannya – kursi-kursi lain diungsikan dari hujan. Sementara mereka nggak. Kan kasian keujanan gitu. Basah…”

“Itu kan dari perspektifmu. Gimana kalo semisalnya kursi-kursi lain yang sebenarnya iri sama mereka?” selorohnya sambil menghembuskan asap rokok.

“Eh, maksudnya gimana?”

“Ya, itu tadi. Siapa tau kursi-kursi lain iri sama mereka karena bisa main hujan. Nggak semua kursi bisa kebasahan kayak mereka. Apalagi sofa yang kita dudukin sekarang ini. Kayak orang dewasa yang suka iri sama anak-anak yang main hujan dengan bebas.”

“…” Aku diam.

Tidak berapa jauh dari tempat kami duduk, ada tiga orang yang sedang berjalan menerobos hujan. Salah satunya adalah anak-anak yang terlihat senang dengan hujan.

Tahu-tahu aku seperti dibawa ke masa kecilku dulu. Di mana tidak ada rasa khawatir akan bermain hujan dan bersenang-senang dalam rinai hujan. Padahal orangtuaku sudah mewanti-wanti untuk tidak bermain hujan agar aku tidak terserang sakit, tapi aku tidak peduli. Aku terus bermain.

Berbanding terbalik dengan diriku sekarang. Baru gerimis saja sudah langsung membuka payung untuk menghindari rintiknya yang tak seberapa itu. Apalagi kalau sudah hujan deras dan aku sedang bepergian, pasti aku jadi misuh-misuh tidak jelas.

“Hei…” Dia menjetikkan tangannya di depan mataku.

Membuyarkan aku dari lamunan.

“Kamu lapar nggak? Makan dulu, yuk!”

2016-02-29-10.26.11-1.jpg.jpeg

Bandung, Februari 2016

Advertisements

One thought on “Percakapan Tentang Sepasang Kursi yang Basah Terkena Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s