image
Pintu masuk Kampung Inggris

Hai, apa kabar semuanya? Saya harap baik-baik saja, ya. 😀

Ngomong-ngomong sudah membaca semua tulisan soal #BellaKembalikeYogya? Kalau belum baca dulu, ya, dan jangan lupa meninggalkan jejak (atau minimal membagikan postingannya di media sosial masing-masing). *fakir visitor

Nah, saya baru balik lagi ke Jakarta setelah ‘kabur’ sejenak ke Kampung Inggris selama hampir sebulan. Jadi, maaf kalau postingan beberapa hari yang lalu sudah dijadwalkan karena keterbatasan koneksi dan kesibukan selama di sana. Hehehe…

Mau tahu gimana cerita lengkapnya? Baca tulisan ini sampai habis dulu dong…

Kronologis Awal

Adakah orang yang nggak punya pekerjaan tapi malas mencari pekerjaan?

Kalau ada berarti itu saya.

Setelah nggak lagi bekerja di Bandung, entah kenapa saya malas sekali untuk melempar CV ke beberapa perusahaan lain, walaupun newsletter soal pekerjaan baru pun hampir memenuhi email saya setiap hari.

Waktu itu saya berpikir untuk rehat dulu, sampai impulsif ke Yogya selama satu minggu. Coba, ya, dipikir-pikir ngapain aja saya selama itu di Yogya? Untung nggak dicariin sama orang rumah dan dilaporkan sebagai orang ilang. -_- *apeu

Lalu sepulangnya dari Yogya, rasa males mencari kerja pun masih menggelayut di bahu, nggak mau pergi. Sampai suatu hari, R, memberikan sebuah pencerahan. Di tengah-tengah obrolan kami, kira-kira dia bilang begini,

Maneh males kerja, kan? Udah ke Pare dulu aja.

Ngapain?

Ya, belajar Bahasa Inggris. Grammar maneh kan masih berantakan.

Hahaha… Iya juga ya. Tapi tempatnya gimana?

Asik kok. Kayak kursus biasa. Sodara gua ada yang pernah kursus di sana, 3 bulan. Dia sih betah.

Hm… coba aku tanya dulu sama Mamaku…

Abis ngobrol sama R itu, akhirnya saya nanya sama Mama. Mama untungnya setuju karena baginya itu adalah kegiatan positif (dan dia sangat senang kalau saya bisa mengikuti kegiatan positif versinya) terus ujug-ujug disuruh nanya Bapak sebagai persetujuan final. Setelah saya menjelaskan beberapa hal soal Kampung Inggris dan lain-lain, Bapak pun memberikan lampu hijau. Yeay…

Sayangnya, ketika hari keberangkatan sampai saya pulang pun, R seperti menghilang nggak ada kabar. Bahkan kami sama sekali nggak bertukar pesan selama saya di sana. Hm… Bisa jadi dia butuh jeda. Padahal saya ingin mengucapkan sedikit terima kasih padanya.

Mendaftar di Kampung Inggris

Lampu hijau sudah di tangan. Selanjutnya apa? Ya, benar mendaftar untuk ikut program. R cuma memberikan usulan tapi dia nggak ikut campur masalah lembaga yang akan saya pilih. Saya akhirnya googling dan menemukan website kampung-inggris.com.

kampung-1
Tampilan depan

Kemudian saya sempat tersesat, terus abis ini ngapain? Akhirnya saya memilih menu program di sebelah home terus memilih paket les + camp. Maklum anaknya nggak mau ribet. Hahahaha… Habis itu dihadapi kebingungan selanjutnya.

KOK LEMBAGA BAHASA INGGRISNYA BANYAK BANGET? 😐

Beruntunglah saya terlahir sebagai generasi dihital yang sudah akrab sama teknologi. Halah. Berhubung saya ingin fokus dengan IELTS, akhirnya saya menekan ctrl+f di PILIHAN PROGRAM dan menulis IELTS hingga muncul beberapa pilihan lembaga. Saya banding-bandingkan harga dan paketnya satu sama lain, hingga Global English menjadi pilihan terakhir.

kampung-2
Ada banyak pilihan

Padahal sebenarnya kalau mau repot sedikit, saya bisa saja mencari-cari dulu lembaga kursus mana yang lebih bagus di antara yang lain – misalnya. Namun, karena sudah terlanjur senang karena mau pergi jauh, lagipula Global English sedang ada promo di bulan Maret, sudahlah bismillah saja dan melakukan registrasi.

Registrasi dilakukan melalui email dan nantinya setelah melakukan konfirmasi pembayaran, kalian akan mendapatkan email berupa kuitansi sementara sebagai bukti pembayaran sudah diterima.

kampung-3
Email dari admin

Jika masih kesulitan, kalian bisa bertanya pada adminnya langsung di Line@ ataupun melalui media sosial. Admin Kampung Inggris cukup ramah dan cekatan dalam menjawab pertanyaan kok. 🙂

Kesan Pertama Tiba di Kampung Inggris

Mau tau kesan pertama saya apa? Tempatnya JAAAAUUUUUHHHH BANGET dari Kediri dan benar-benar ada di Kampung (?). Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya sempat membaca beberapa review dari orang-orang yang pernah ke sana. Seharusnya sih nggak kaget, ya, cuma tetap saja rasanya kok agak nganu.

MBAK, KAMU ITU MAU KURSUS APA GIMANA SIH? – kata hati saya waktu saya merengut karena kondisinya sedikit meleset dari ekpetasi.

Ngomong-ngomong Kampung Inggris sekilas mengingatkan saya pada kondisi Dayeuh Kolot. Mungkin alumni Telkom University paham akan hal ini. *nyengir

kampung-4
Kira-kira jaraknya begini

Walaupun namanya Kampung Inggris, tapi sebenarnya nggak terlalu ndeso sih, sudah banyak sentuhan modern-nya meski nggak ada Indomaret atau Alfamaret di dalam kawasan Kampung Inggris. *tetep ya mba yang dicari supermarket

Selama di sana, nggak usah khawatir bokek dan kelaparan karena harga makanannya begitu murah dan cukup enak meski nggak cukup sehat karena saya jarang makan sayuran segar apalagi buah-buahan. Cuma kapan lagi makan donat yang harganya 1000 rupiah dan pentol yang enak coba? Makanan sehatnya disisihkan dulu.

Selain itu, tunjangan ATM juga udah banyak dan lengkap. Ada Mandiri, BNI, BRI, Bank Jateng, Muamalat, dan BCA. *kalau saya nggak salah ya

Ikut Placement Test dari Global English

img_20160428_220455.jpg
KRS-nya kakak

Setelah tiba di Kampung Inggris, kemudian melakukan registrasi ulang, saya diantarkan menuju camp untuk menaruh barang dan merapikan diri supaya bisa mengikuti placement test yang akan menentukan program apa saja yang .

Berhubung niat awal saya akan mengikuti IELTS, jadi selama wawancara pun saya sudah keukeuh bahwa saya mau ambil program IELTS.

Untungnya interviewer baik dan nggak menyuruh saya ikut program reguler walaupun saya menjawabnya terbata-bata apalagi pas ditanya,

“Emang rencana ke mana kok mau ngambil IELTS?” dalam Bahasa Inggris, saya cuma jawab,

“Mau study aboard.” *padahal sebenarnya cuma iseng

Terus abis placement test kembali ke office buat isi KRS eh maksudnya mencocokkan jadwal dan program yang diambil. Di Global English, selama 1 bulan ada 5 program yang bisa dipilih sesuka hati. Dua minggu pertama 3 program, dua minggu berikutnya 2 program, atau sebaliknya.

Berhubung saya mengambil IELTS Preparation jadi saya memilih di dua minggu pertama itu Reading for IELTS, Wrting for IELTS 1, dan Listening for IELTS.

Dan mulailah perjalanan saya belajar di Kampung Inggris. :p

Jika ada yang ingin mencoba belajar di Kampung Inggris, di sana ada program minimal 2 minggu. Periodenya sendiri ada 2 kali yaitu tanggal 10 dan 25 setiap bulannya. Ayo, manfaatkan waktumu buat belajar ke sana. Nggak rugi kok. 🙂

Advertisements

11 thoughts on “Menyasarkan Diri di Kampung Inggris, Kediri

  1. Jadi, kampung Inggris ini disponsori oleh BNI ya kak? Keknya gitu, sih. Soalnya dari nama dan logo di gapuranya udah mampang gede gitu. 😀

    Keknya baru ketemu, nih. Gak ada kerja, tapi disuruh kerja gak mau. Tapi, gak apa2 sih. Kalo diisi sama kegiatan positif kek gini. Jadinyakan bermanfaat ya kak?

    Di tempatku ada juga, sih. Tapi, belum pernah ke sana. Soalnya ngomong yes sana no aja, lidah seling keseleo. 😀

      1. ow, susah lafalin “IELTS”-nya pas baca tulisanmu ini. 😀

        sudah saya duga, R yg itu. :3 selamat berbahagia, kalian! 😉

      2. saya dari awal selalu keliru baca “EILTS” atau “EITS”. hahaha! :v

        padahal saya nggak menduga apaapa, lho. sumpah. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s