Hai…

Akhirnya mood nulis lagi soal pertapaan di Kampung Inggris setelah cerita sebelumnya di akhir April lalu. Kalau postingan pertama menceritakan soal awal mula saya ‘nyasar’ ke Kampung Inggris, maka kali ini saya akan menceritakan soal lembaga kursus saya, Global English, serta proses belajar selama di sana.

Baru sampai di Pare, saya baru mengetahui bahwa Global English adalah salah satu lembaga yang cukup baik dan bagus di sana. Fufufufu… Untung nggak salah pilih, ya. Apalagi saya sudah melakukan perjalanan lintas galaksi yang cukup jauh. *oke sip

Kayaknya saya lupa menceritakan hal yang bisa dibilang menyebalkan ketika saya tiba di Global English. Saat saya melakukan pendaftaran, saya disuruh duduk menunggu.

“Bentar, ya, Mas. Tunggu aja di sini,” ujar salah satu petugas.

Mas? Saya pikir salah mendengar. Ternyata tidak ketika petugas itu datang dan membawa beberapa berkas. “Mas, nanti isi di sini.”

Tuh, kan? Akhirnya sambil ngisi saya ngedumel, “Mbak, saya cewek. Bukan mas-mas…” *senewen

Potongan rambut saya waktu itu emang masih pendek banget soalnya sebelum ke Yogya, saya sempet motong rambut dulu. Eh, tapi saya pake baju panjang, lho, bukan baju asal dan dipanggil ‘Mas’. Sebel…

*

Kemampuan Bahasa Inggris saya bisa dibilang tidak bagus-bagus amat, apalagi selama di sana, bodohnya  saya justru sok-sokan ambil IELTS preparation. Untunglah selama di sana, tidak terlalu mengalami kesulitan. Justru sebaliknya, saya rasa waktu sebulan itu terasa kurang sekali.

Soalnya dalam sebulan ada 5 program yang saya ambil yang bisa diambil dalam minggu pertama dan minggu ketiga. Minggu pertama sampai kedua saya mengambil 3 program, Writing for IELTS 1, Reading for IELTS, sama Listening for IELTS. Kemudian di minggu ketiga sampai keempat, mengambil Writing for IELTS 2 dan Writing for Grammar.

Setiap hari dari Senin hingga Jumat, saya harus masuk ke kelas. Persis seperti sekolah dengan jam masuk dan pulang, hanya saja nggak ada bel tanda pulang atau masuk dan waktu serta pakaian jauh lebih fleksibel. Wong, saya kalau berangkat aja pake sandal jepit. :p

Di sini, kami memanggil guru alias tutor dengan Mr dan Ms. Begitupun dengan teman-teman yang belum dikenal. Jadi, jangan heran kalau kamu dateng ke Kampung Inggris, tahu-tahu kamu dipanggil dengan Mr atau Ms. Sesungguhnya itu adalah panggilan kesayangan.

Ruangan dan Suasana Kelas di Global English

p_20160405_083143.jpg

p_20160405_083152.jpg

p_20160408_084634.jpg

p_20160409_083742.jpg

Ada untungnya juga saya ngambil kelas IELTS, karena kelasnya terletak di belakang office – sebutan untuk kantor Global English (yaelah semua orang juga tahu kalo office itu kantor kali). Soalnya beberapa program reguler dan program lainnya, kelasnya mencar-mencar dan bisa di mana saja. Paling jauh letaknya di Parcor alias Pare Corner, salah satu kafe yang ngeheits se-Kampung Inggris dan letaknya cukup jauh dari camp saya.

Seperti yang dilihat, foto-foto di atas adalah foto kelas saya. Iya, belajarnya lesehan dengan meja panjang. Lucu, ya. Sayangnya, ada beberapa meja yang dicoret-coret dengan berbagai macam tulisan. Dasarnya saya yang iseng, kadang-kadang suka dibaca satu-satu tulisan yang ada di atas meja. Kebanyakan sih cita-cita soal mimpinya dateng ke Kampung Inggris. Hahahahaha…

Suasana Belajar, Keakraban, dan Pertemanan di Luar Kelas

Namanya juga kursus, jadi tetap aja ada tugas alias peer. Dari program yang saya ambil, yang paling banyak tugas adalah…. Writing dan Listening. Kalau tugas writing menulis topik-topik yang dikasih, sedangkan tugas listening itu menuliskan audio yang dikirimkan di grup WA. Sumpah, kadang telinga saya bisa budek mendadak karena aksen yang susah dan pas ditulis apa yang didenger kok nggak ada artinya? Bhay…

Kayak sejak kapan Water dibaca jadi Wayah… Ha… Ha…

Ya udah saya pasrah aja dan ikhlas. Anggap aja kan mengasah kemampuan.

Tulisan saya
Tulisan saya. Kiri coretan, kanan yang mau dikumpulkan
Di kelas listening
Di kelas listening

Untuk kegiatan belajar mengajar menggunakan white board. Sementara untuk kelas Listening, berada di ruangan khusus untuk listening dan mendengarkan suara yang diputar. Kalau di kelas reading, saya disuruh mengerjakan tugas-tugas reading sementara di grammar for writing adalah menerjemahkan kalimat Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris sesuai Grammar. Dan itu nggak mudah sama sekali. Buktinya setiap kali tes, nilai saya cuma 2! 😐

p_20160419_121553.jpg
Papan white board kenangan

Pas masuk program IELTS, sebenarnya agak minder sih sama temen-temen sekelas, karena sebagian adalah awardee LPDP, udah dapet LoA dari Universitas di luar, atau rencana studi dan kampus yang ingin mereka sambangi. Sementara saya? Ah, modal ikut-ikutan sih sebenarnya. Eh, tapi jadinya kecipratan semangat buat bisa ikutan seperti mereka. Aamiin.

Alhamdulillah, saya dapat teman dan tutor yang enak-enak. Bahkan, nggak cuma akrab di kelas, kami pun akrab di luar kelas. Main bareng, makan siang bareng, kumpul-kumpul, atau rencana keluar dari Pare pas akhir pekan pun rame-rame. Seru banget.

1461421548700.jpg

img-20160409-wa0019.jpg

p_20160409_091121.jpg

p_20160409_091245.jpg

Semoga pertemanan kami nggak sebatas di Pare saja, ya. Karena saya termasuk orang yang yakin kalau nanti bagian dari hidup mereka yang bersinggungan kembali dengan hidup saya. Coba, ya, semisalnya kemarin saya bertemu dengan adik kelas satu alumni, mantan teman kantor (Walaupun lupa sudah bertemu apa belum), sampai Pengajar Muda yang satu angkatan dengan teman yang saya kenal di Bandung. Tuh, kan?

Ceritanya masih berlanjut ya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s