Hai… Hallo…

Adalah salah satu sapaan yang biasa Kak Indra  ketika memulai twit pertamanya. Namun, mulai kemarin, hari ini, esok, dan seterusnya, tidak akan ada lagi kata-kata yang berhamburan lagi di akun twitter @acturindra, miliknya.

Terhitung kemarin, Kak Indra pergi meninggalkan kami, orang-orang yang mengenalnya baik secara nyata dan maya. Timeline-ku begitu riuh, teramat riuh malah oleh orang-orang yang mengenangnya dan menuliskan kembali penggalan-penggalan puisi, sajak, ataupun tulisan yang pernah dibuat olehnya.

***

Aku mengenal Kak Indra berasal dari dunia maya…

Media sosial micro blogging, Twitter, menjadi titik pertama bagaimana kami bertemu. Aku lupa bagaimana kami bisa saling mem-follow satu sama lain. Kalau tidak salah ingat, dikarenakan kami berdua mengikuti proyek menulis yang sama. Kalau tidak salah…

Beberapa kali kami sering menyambar twit satu sama lain, sering bercanda di Twitter, dan tahu-tahu berteman di media sosial lainnya seperti Facebook, Instagram, Path dan blog.

Hingga suatu hari, aku pernah membuat twit seperti ini:

Aku mau jalan-jalan lagi nih. Enaknya ke mana, ya?

Aku lupa ada berapa orang yang menyambar, hingga Kak Indra turut membalas:

Sudah kamu main ke Semarang aja sini. Nanti aku ajak jalan-jalan.

Aku yang belum pernah bepergian ke Semarang, menganggap ini adalah sebuah kesempatan. Lalu aku menghubungi langsung Kak Indra, kuutarakan maksudku untuk jalan-jalan dan izin apakah benar aku boleh ke Semarang dan ‘merepotkan’ dirinya. Kak Indra membalas tidak apa-apa.

Jadi, akhirnya aku mulai berburu tiket kereta dari Bandung ke Semarang. Ya, kejadiannya 4 tahun lalu di mana aku masih berstatus sebagai mahasiswa dengan uang saku yang masih minta pada orangtua, tapi keinginan untuk menjelajah sudah timbul.

Anehnya tidak ada timbul rasa takut yang menghampiri ketika aku melakukan perjalanan ke sana. Padahal, kami berdua sama sekali belum pernah bertemu dan aku sendirian berada di kota asing. Aku percaya Kak Indra orang yang baik, maka dia tidak akan berani untuk melakukan tindakan kriminal terhadapku. Pikiran jelek itu bahkan sama sekali tidak terlintas di pikiranku.

***

8 November 2012

Kira-kira pukul 5 pagi, aku mengirimnya sebuah pesan singkat. Mengabarkan bahwa aku sudah hampir tiba di Stasiun Tawang. Kak Indra membalas pesan.

“Aku sudah di Stasiun Tawang. Aku memakai sweeter hitam.”

Aku turun dari kereta dan menuju pintu keluar. Celingak-celinguk di ruang tunggu stasiun dan menemukan sosoknya. Kami berdua saling melempar senyum, sedikit canggung dan bersalaman. Kak Indra sempat meminta izin untuk membawakan tas ransel yang aku bawa, tapi aku menolak dan memilih membawa sendiri. Kami kemudian berjalan ke tempat parkir di mana motornya terparkir di sana. Dia memberikanku helm – yang sedikit kekecilan, kemudian kami keluar dari stasiun menuju kediamannya.

Rumahnya berdinding bata, berada di sebuah pemukiman yang cukup padat penduduk. Kak Indra sempat meminta maaf jika rumahnya tidak sesuai ekspetasiku, aku bilang tidak apa. Justru aku bersyukur karena masih ada orang yang menemaniku jalan-jalan dan memberikan tempat menginap, ya, dia adalah Kak Indra.

Aku menaruh tas di kamar belakang yang sudah dia bereskan. Merenggangkan badan sebentar dan berganti pakaian. Kak Indra kemudian mengajak untuk mencari sarapan di luar. Setelah sarapan, dia mengizinkanku untuk beristirahat sebentar sebelum mengantarkanku keliling Semarang.

12004097_10206420672789157_1304113319247676291_n.jpg
Sweater yang dipakainya

***

10 November 2012

Di hari itu, aku merasa ada geliat yang berbeda darinya. Dia terlihat gusar dan bolak-balik masuk kamar dalam keadaan bingung ketika aku menonton TV dan tiduran di depan kamarnya yang juga menjadi tempat tidur kami.

Malam harinya, kami makan warung nasi goreng dan rupa-rupanya. Kak Indra memesan nasi goreng, sementara aku memesan kwetiau goreng. Mata Kak Indra terlihat memancar saat melihat sepiring kweatiau goreng milikku.

“Kenapa kak?” tanyaku.

“Itu kweatiau? Rasanya kayak apa?” tanyanya balik.

“Iya. Kakak belum pernah makan kweatiau? Mau coba?”

“Boleh.”

Dia mencoba dan wajahnya berubah. Ternyata kweatiau tidak cocok dengan lidahnya. Hihihi… Setelah makan, seperti biasa kami saling diam sampai tiba-tiba Kak Indra mengeluarkan burung kertas merah jambu dan menyerahkannya kepadaku.

“Boleh kubaca?”

Dia mengangguk.

Aku pun melepas lipatan burung kertas itu dan membaca tulisan tangan milik Kak Indra di kertas berwarna putih. Pengakuan cintanya kepadaku serta harapan-harapannya terhadap hubungan kami. Aku lupa seperti apa isi suratnya, yang pasti sangat manis dan romantis khas Kak Indra.

Hening…

Aku tidak segera memberikan jawaban. Setelah selesai makan dan kami kembali pulang, Kak Indra bertanya, “Jadi apa jawabanmu?”

“Kak, kita aja baru kenal 4 hari. Aku belum kenal kakak, kakak juga belum terlalu kenal aku. Nggak sekarang, ya…” Akhirnya itu jawaban yang kuberikan.

Terus terang saja aku tidak siap berhadapan dengan pilihan seperti ini. Bagi Kak Indra, itu adalah sebentuk penolakan. Sementara bagiku, itu tanda bahwa aku ingin menjalaninya pelan-pelan.

Memang, tidak ada yang pernah memaksa kapan cinta datang, sebagaimana kita tidak akan pernah siap mendengar kabar kematian seseorang yang kita kenal.

***

Menurutku Kak Indra sangat tulus dan penyabar. Setiap pagi, ketika aku memejam mata, dia sudah menyiapkan secangkir teh manis hangat yang dihidangkan di atas meja ruang tamu. Walaupun kami hanya tinggal berdua saja di rumahnya, Kak Indra benar-benar menjagaku dan mungkin dirinya sendiri.

Tidak usil ataupun berniat buruk. Aku tidak tidur di kamar yang sudah dia sediakan, malah memilih tidur di depan TV beralaskan tikar. Kadang Kak Indra turut tidur di sisi sebelahnya dan aku merasa diam-diam dia suka memerhatikanku yang tengah terlelap.

“Selamat pagi, Bella. Mau sarapan?” Begitu sapaannya setiap kali aku baru bangun. “Teh manisnya udah ada, ya, dan masih hangat.”

Dia bahkan tidak menyentuh sarapannya sebelum aku bangun agar kami bisa makan bersama.

*

Kami berdua sering sama-sama terdiam satu sama lain. Bingung untuk membuka percakapan dan terlalu asik berteman dengan sunyi. Ah, Kak Indra memang irit sekali berbicara. Dia tidak sebawel di Twitter.

Tetangganya pun bersikap sangat ramah. Mereka bahkan berpikir kalau aku adalah saudaranya karena bagi mereka, kami memiliki wajah yang mirip. Lucu, ya. 😀

Aku bahkan sempat bertemu dengan kakaknya Kak Indra dan berbasa-basi jika aku berniat ke Semarang, jangan lupa mengabarinya kembali. Begitulah. Aku menemukan sebuah keluarga dalam perjalananku.

***

Sepulangnya aku dari Semarang, sikap Kak Indra mendadak aneh. Tahu-tahu dia memutuskan kontak denganku di media sosial. Kecuali Twitter, aku tidak lagi berteman dengannya di media sosial manapun. Tidak hanya itu, tulisannya tentangku tahu-tahu juga hilang dari blognya. Aku ‘sengaja dihilangkan’ olehnya.

Aku sebenarnya hendak bertanya, tapi tanpa kuungkapkan pun aku tahu jawabannya kenapa. Ya, sudah. Toh, aku tahu Kak Indra masih baik-baik saja rasanya sudah cukup. Walaupun hubungan kami tidak sebaik dulu, dan komunikasi dengannya tidak sebanyak dulu dan sempat terputus.

***

Kak Indra sakit.

Itu berita yang aku dengar saat orang-orang kebingungan mencarinya karena dia sudah lama tidak bercuit. Dia mengunggah foto di mana dirinya tengah terbaring dengan bantuan oksigen di mulutnya.

Aku kaget luar biasa. Aku tidak pernah membayangkan ini adalah sosok yang pernah aku temui 4 tahun lalu. Memang badan Kak Indra sedikit kurus, tapi kupikir dia sehat-sehat saja. Rupanya tidak. Aku ingin menghubunginya secara pribadi, tapi urung karena rasa keras kepalaku. Akhirnya aku hanya bisa berdoa dalam diam untuk kesembuhannya.

***

12 Juli 2016, 13:56

Aku mendapat sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak kukenal dan mengabarkan kondisinya. Isi pesannya begitu membuatku bergidik dan tidak bisa berkonsetrasi kerja. Aku membalas pesannya dan ternyata si pengirim pesan adalah kakaknya Kak Indra. Akhirnya aku berinisiatif untuk menelepon beliau.

“Hallo, Mbak. Ini saya Bella…”

“Iya, Mbak Bella. Mbak Bella temannya Indra di Semarang atau di Jakarta?”

“Di Semarang, eh Jakarta, Mbak.”

“Kenal Indra di mana?”

“Di media sosial mbak, di Twitter. Kondisi Kak Indra gimana, Mbak?”

“Ya, doain aja. Maafin Indra ya kalo dia ada salah.”

Suaranya begitu tenang seperti sudah ikhlas untuk melepaskan apapun yang terjadi nantinya.

Ketika aku ingin menanyakan kabarnya lebih jauh, telepon terputus. Saat aku mencoba menghubunginya lagi, tidak diangkat. Aku mendadak cemas dan was-was menduga ada sesuatu yang terjadi pada Kak Indra setelahnya. Akhirnya aku berinisiatif untuk mengabarkan kondisi Kak Indra ke Twitter karena kami dalam circle yang sama.

Banyak mention yang masuk dan bertanya bagaimana kondisi terakhirnya. Aku masih menunggu kabar dari kakaknya, sampai ada sebuah kabar duka itu datang. Dari keponakan Kak Indra.

https://twitter.com/effahanifa/status/752861120998707200

Aku lemas. Sungguh… Sepanjang jalan berpikir tentang hal-hal yang pernah kami lakukan dan melupakan hal-hal buruk yang mungkin terselip di sana.

Kak Indra sudah pulang kembali… Tenang dan beban sakitnya sudah hilang sama sekali.

Sama seperti Dwi

Lalu aku menyadari bahwa ada beberapa persamaan antara mereka berdua selain meninggal di usia muda.

Kak Indra dan Dwi sama-sama lahir di bulan Juni, ulang tahun mereka pun tidak berbeda jauh. Kak Indra tanggal 13 Juni dan Dwi tanggal 17 Juni.

Kak Indra dan Dwi adalah teman yang aku kenal lewat Twitter, bertemu dan dekat.

Kak Indra dan Dwi sama-sama kontributor buku #MerentangPelukan yang diterbitkan oleh katabergerak.

Kak Indra dan Dwi meninggal hanya selisih 5 bulan 11 hari. Dwi meninggal di tanggal 1 Februari dan Kak Indra meninggal 12 Juli kemarin (maaf jika perhitunganku ini salah).

Kak Indra dan Dwi memberikan kenangan dan kesan yang begitu berarti buatku.

***

13 Juli 2016

Sebulan yang lalu, Kak Indra menggenapkan umurnya yang ketigapuluh. Namun, takdir pula yang memilihnya untuk menutup buku kehidupannya, menyusul Ibunya yang berpulang lebih dahulu. Tidak sengaja aku membaca sebuah puisi yang Kak Indra tulis untuk ibunya.

Saya Ingin Pulang, Bu.

Hari begitu saja menua, Bu.

Tanpa senyummu yang biasa membingkiskan mentari ke dalam saku kemeja saya.

Hari kini begitu temaram, Bu.

Hanya pada pelita bercahaya ingatan kamu antar saya menyeberangi sungai-sungai yang mengaliri detik-detik perpisahan, meniti titian penjal rindu. Menuju diorama surga yang saya sebut impian.

Hari begitu saja mengabu, Bu.

Tak adalagi bingkai pelangi yang kamu pintal di atas kubah langit saya.

Yang dulu kamu sebut hadiah terindah, sebab kita dapat menaklukkan badai kehidupan dengan legitnya senyuman.

Dunia kini tak saya kenali, Bu.

Saya terasing!

Bahkan di dalam kamar saya sendiri. Kamar yang menyimpan jutaan potret tentang masa kecil — Saat saya mengencingi kain batik kesayanganmu, atau ketika kamu tertawa geli di sela-sela tangis saya yang kamu anggap lucu.

Dunia tak lagi sama untuk saya, Bu.

Hari kini telah berbeda.

Saya ingin pulang, Bu. Ke rumahmu, ke dadamu, ke matamu.

Kemanapun itu. Tempat yang tak pernah menganggap saya asing.

img_20160713_211136.jpg
Makam Kak Indra di samping ibunya (sumber: effahanifa)
Advertisements

2 thoughts on “Surat Kenangan untuk Catur Indrawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s