tumblr_ln323ktntm1qaobbko1_500

Aku sedang asik memejamkan mata dan tiba-tiba saja menguar aroma seduhan kopi yang baru diseduh entah dari mana asalnya. Aku hanya sendiri di sini, jadi siapa yang sekiranya sedang menyeduh kopi? Mungkin itu hanya imajinasiku. Atau bisa jadi aroma kopi itu berasal dari rumah sebelah. Atau aku sedikit rindu dengan si peminum kopi. Hingga seakan-akan mencium minuman kesukaannya padahal sebenarnya tidak ada.

Pada suatu waktu, aku pernah kenal, berteman, dan dekat dengan seseorang. Seseorang yang pernah kukenal jauh sebelumnya hingga kami dipertemukan kembali dalam kurun waktu yang cukup panjang. Selalu ada senyum dalam setiap pertemuan. Selalu ada cerita yang dibagi dalam setiap obrolan yang terjadi. Pertukaran informasi bahkan cerita konyol di masa muda yang sanggup membuat lupa waktu dan tahu-tahu malam sudah semakin larut.

Pada akhirnya memaksa kami untuk mengakhiri setiap perjumpaan di hari itu. Untuk pulang. Untuk kembali berteman dengan kesendirian dan keterasingan dalam hidup.

*

Aku selalu menyukai pencerita yang baik, karena aku tidak pintar bercerita secara runut. Jadi, ketika ada orang yang menceritakan perihal dirinya walaupun itu hanya potongan kecil dan cerita remeh-temeh, maka sebisa mungkin aku akan mendengarkannya dan menanggapi jika perlu ditanggapi.

Dia salah satunya.

Aku tidak tahu sejak kapan diam-diam dia mencuri semua perhatianku. Segala pesan yang masuk darinya selalu kutunggu dan bisa membangkitkan semangat di kala hari sedang berjalan teramat buruk. Ada saja printilan tidak penting yang selalu kami bahas tapi anehnya itulah yang aku tahu kalau duniaku tidak sejelek yang kupikirkan belakangan ini. Karena ada dia, salah satunya.

*

Dia adalah peminum dan pecinta kopi. Sementara aku hanya ikut-ikutan saja menjadi peminum kopi. Kopi yang biasa kuminum pun sebatas kopi sachet pabrikan yang dijual seharga seribu rupiah per bungkusnya. Sementara dia tahu betul semua tetek-bengek perihal kopi yang membuatku semakin kagum saja. Ha…  Ha… Ha… Bisa aja remahan kerupuk yang nempel di kain baju.

Dia beberapa kali mengajakku untuk mampir di kedai kopi yang belum pernah kudatangi. Ya, seperti yang kubilang tadi aku hanyalah peminum kopi karbitan. Dia mengenalkanku pada aroma kopi yang baru saja diseduh dari biji kopi yang digiling dan bukan dari bungkusan pabrik. Harum dan enak seperti aroma bensin saat pengisian tangki kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar, atau seperti menghirup bau lem aibon yang bisa membuat sakau.

Hanya saja, seperti yang selalu ulangi terus-menerus sebagai pengingat untuk diri sendiri adalah bahwasanya satu-dua kali pertemuan harus dihargai dan diapresiasi bentuknya. Sekecil apapun itu. Karena tidak ada yang tahu apakah besok, lusa, atau berapa lama lagi perjumpaan akan terulang kembali. Atau bahkan tidak pernah ada selanjutnya.

Aku masih ingin berteman, melepaskan apa yang pernah terjadi dan dilakukan sebelumnya. Namun, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tidak berani bertanya maupun menyapa lebih dahulu, karena aku sendiri benci ketika sesuatu berada di luar ekspetasiku. Jadi, biarkan segala sesuatunya kusimpan sendiri saat ini. Tak usah dibagi ke siapapun apalagi kepadanya langsung. Lagipula mengikutip sebarik lirik lagu The Rain, “Aku cuma rindu. Itu saja”, itulah yang kurasakan sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s