Tulisan ini akan dimulai dengan percakapan antara saya dan Danis di Whatsapp pada hari Senin, 27 Maret 2017.

“Kamu hari Selasa ke mana? Jalan2 berdua, yuk, sekalian merayakan ultah ala-ala,” ujar saya ke Danis siang itu. “Menikmati Jakarta, yuk, muter-muter gitu.”

Kebetulan di hari Selasa memang bertepatan dengan hari Nyepi/Harpitnas/Hari ulang tahunnya, jadi saya ingin melewatkan hari-hari bersamanya seharian karena kesibukannya akhir-akhir ini yang membuat kami jarang bertemu.

Lagipula biasanya Jakarta memang suka sepi kalau liburan, karena macetnya pindah ke kota lainnya. Terus saya malas pulang ke Bekasi karena capek sama drama commuterline menjelang libur dan setelah masuk liburan. Dan liburnya juga nanggung banget, kan, wong hari Rabu udah ngantor lagi. Seriyus. #OrangJakartaDaruratPiknik

Nah, sebagai pribadi Aries yang punya pacar seorang Gemini, memang harus ekstra sabar menghadapi pacarnya (baca: saya). Hahaha…

Kemudian dijawabnya seperti ini, “Kalau ga ada tujuan. Mending tidur di rumah aja.”

Jleb…

Saya coba memancing-mancing kembali supaya jalan-jalan kali ini jadi. Saya memikirkan museum-museum yang belum didatangi, tempat-tempat yang membuat penasaran, wisata kuliner apa yang menarik, hingga sampai pada keputusan mengunjungi Petak Sembilan dan Kalijodo. Ya, kan random memang.

“Kalau mau ke Kalijodo, enaknya sore. Kalau siang, yang ada makin mateng,” begitu jawabnya lagi ketika saya menyebut kedua destinasi tersebut. “Oke, jam 10-an aku samper kamu.”

*

Keesokan harinya tiba.

Saya terbangun pukul 7 pagi oleh alarm alami dari ibu tukang sayur yang berteriak, “Sayur… Sayur…”, di depan kos. Memang kebetulan juga kamar kos menghadap ke jalan jadi semua terdengar.

Sehabis bangun tidur, bersih-bersih dan beresin kamar, mandi, dan ganti baju. Terus saya menunggu Danis bangun sambil baca buku. Baru pukul 10 pagi, dia membalas chat saya kalau baru bangun dan bersiap-siap mandi. Oke, kata saya ngebatin dalam hati.

Hingga pukul 11 siang, si doi nggak kunjung datang. Agak merengut juga karena siang begitu terik dan otomatis rencana memutari kawasan Petak Sembilan bisa batal karena cuaca yang panas. Huvt.

Birthday boy itu akhirnya datang sekitar pukul 12 siang. *elus-elus dada

Saya memberikannya kado dan melanjutkan makan siang yang sempat tertunda. Setelah satu jam, kami baru berangkat menunggu agak ademan sedikit. Rencana pun berubah. Dari mengitari Petak Sembilan serta icip kuliner di Gang Gloria, malah ingin makan es krim di Baltic, Senen. Namun, sayangnya emang hari itu kami belum berjodoh ke mana pun kali, ya. Pas udah sampai di Baltic, eh ternyata tutup.

Matahari rasanya benar-benar ada di atas kepala, panasnya meletek gitu. Sementara Danis belum makan, kami pun akhirnya memilih jalan berputar untuk menuju restoran padang kesukaan di seberangnya Menteng Huiz. Menu yang dia pesan seperti biasa: ayam balado, dadar, es teh manis, dan nasi dua porsi. Hapal, kan? Hahahaha…

Selesai makan siang, perjalanan pun dilanjutkan. Akhirnya ‘cuma’ ke Kalijodo aja. Kenapa Kalijodo tampak menarik perhatian? Kira-kira begini alasannya:

1. Dulunya Kalijodo adalah tempat prostitusi di Jakarta sebelum akhirnya dialihfungsikan menjadi RTH atau Ruang Terbuka Hijau oleh Ahok.

2. Ada area bermain dan skatepark-nya. Kalau lihat taman di Bandung sih rasanya udah biasa, tapi ini di Jakarta, jadi WOW…

3. Saya emang belum pernah ke sana. Ya, udah, gitu aja.

Mungkin karena sedang hari libur atau Kalijodo sudah menjadi lokasi wisata baru, ramainya sungguh luar biasa. Satu sisi saya senang karena dari situ dapat dilihat bahwa masyarakat Jakarta khususnya dari kalangan menengah punya alternatif tempat wisata lain selain Kota Tua yang ramainya juga nggak ketulungan kalau lagi hari libur. Sisi lainnya, saya takut tiba-tiba ilang. Hahaha…

Akhirnya saya terus memegangi tangan Danis supaya nggak jauh-jauh dari saya. Padahal saya sendiri sudah beberapa kali sempat dinyatakan ‘hilang’ waktu kecil. -_-

Nggak seperti siang hari yang begitu terik, menjelang sore udara dan angin mulai terasa sejuk dan juga mendung. Kami memarkirkan motor di area parkiran yang dijaga oleh beberapa orang yang nampaknya begitu kelelahan. Soalnya mereka sempat berkata kurang mengenakkan kepada pengunjung yang ingin parkir. Area parkir motor pun juga penuh walau nampaknya area parkir yang tersedia juga sudah cukup luas.

Untuk melihat bagian dalam, kami harus naik dan turun beberapa anak tangga hingga melihat area bermain serta ruangan seperti pendopo yang ada live music-nya serta dikelilingi orang-orang yang mendengarkan (atau penasaran).

Nggak usah khawatir kalau merasa haus karena di sana ada vending machine yang bisa dipakai untuk membeli variasi minuman seperti Fruit Tea, Air mineral, dan Teh Botol. Cukup membayar Rp 5.000,00 mesin akan mengeluarkan minuman yang kita inginkan.

Lucunya, vending machine pun dikerubuti oleh orang-orang yang kepo melihat cara kerja mesin tersebut. Bahkan ketika Danis ingin membeli Fruit Tea ada bapak-bapak yang curhat kalau uangnya nggak bisa terbaca sehingga dia nggak bisa membeli minum. Kemudian ada sekelompok laki-laki ABG yang membantu si bapak.

Kami berjalan-jalan lagi mengelilingi area Kalijodo. Sesekali saya memotret serta terhibur sendiri melihat orang-orang yang berjalan dan menikmati Kalijodo seperti kami.

Segala aktivitas serta kegiatan warga begitu tumpah ruah di Kalijodo. Tanpa peduli strata sosial atau penampilan, semua datang membaur bersama-sama. Ada juga penyewaan becak mini, skateboard, sepeda, mobil-mobilan yang dinyalakan pakai aki (persis mainan saya dulu), dan tentu saja ada model-model berkostum untuk berfoto bersama seperti di Kota Tua. Model yang menarik adalah model yang menggunakan baju Transformer. Seru banget!

Sayang area bermain skatepark bisa dibilang terlampau kecil. Selain untuk anak-anak atau orang dewasa yang bermain skateboard ada juga anak-anak yang bermain sepeda atau sepatu roda. Jadi, keamanan masih kurang. Selain itu, rasanya juga sampah masih banyak berserakan. Hih, saya nggak paham lagi kenapa orang buang sampah sembarangan dan tidak membawa sampah mereka kalau tidak menemukan tempat sampah.

Perjalanan kami di Kalijodo harus terhenti karena hujan mulai rintik-rintik diserta petir yang menggelegar. Sebelum pulang, Danis meminta izin untuk ke kamar mandi yang ada di bagian ujung pendopo. Ternyata kamar mandinya tidak ada air sehingga dia cepat sekali keluarnya.

Lalu kami melihat bagian dinding yang ada di depan kami, tepatnya di bagian dalam tembok tulisan RTH Kalijodo tadi. Ada sebuah mural di sana dan menjadi spot orang-orang mengambil foto soalnya instagramable.

“Menurutmu apa artinya gambar itu?” tanya saya. “Menurutku kayaknya Bhinneka Tunggal Ika gitu.”

“Nggak kayak gitu. Menurutku lebih kepada siapapun bisa menikmati Kalijodo,” jawab Danis diplomatis.

Memang seperti itu juga kelihatannya. Saya melihat sendiri bagaimana orang-orang yang begitu banyak berdatangan ke sini. Semoga saja banyak kawasan terbuka hijau lebih banyak di Jakarta bukan hanya tinggi-tinggian lantai gedung atau apartemen. Akhirnya saya pun mengucapkan terima kasih pada Danis karena dia mau menemani saya bermain dan bersenang-senang dengan cara lain.

Advertisements

3 thoughts on “Potret Orang Jakarta Lainnya di Kalijodo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s