Entah kenapa pemakaman selalu membawa kesan tersendiri bagi saya. Walaupun saya tidak terlalu suka mendengar kabar kematian, saya senang datang ke area pemakaman. Terlebih bila area pemakaman tersebut rapi seperti makam almarhum Kakek di Taman Makam Pahlawan Madiun.

(Baca: Museum Taman Prasasti, Museum yang Terlupakan)

Bisa jadi area pemakaman adalah sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk suara yang bising dan ribut, hanya segelintir orang-orang yang datang, dan, ya, begitulah pemakaman. Di mana menjadi tempat peristirahatan orang-orang yang sudah meninggal serta akan ramai ketika menjelang hari raya datang.

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengunjungi Kebun Raya Bogor bersama Danis, Dimas, sahabat Danis, dan pacarnya Dimas, Kaifa. Kami janjian ketemu di Manggarai pukul 11.00 siang dan melanjutkan perjalanan dengan commuterline ke Bogor.

Kebetulan arus penumpang tidak terlalu ramai, mungkin karena orang-orang terbagi menjadi berbagai aliran ketika liburan tiba: aliran liburan ke luar kota, aliran liburan sekitar Jabodetabek, dan aliran yang memilih untuk di rumah saja. Biasanya saya aliran ketiga, tapi rada bosen juga di rumah doang pas lagi weekend maupun long weekend, jadi saya ikutan aliran kedua.

Masuk ke Kebun Raya Bogor cukup membayar Rp 14.000,00 per orang yang juga mencakup tiket terusan ke Museum Zoologi dan tempat-tempat sekitar kebun raya. Kami berempat memutari area kebun raya, berhenti untuk mengambil gambar, sesekali berdiskusi soal pohon dan bentuk vandalisme yang ada di sekitar situ bareng Danis (bahasannya serius, ya, padahal sebenarnya nggak gitu juga), beristirahat sebentar, serta makan es krim 3000-an yang banyak dijual di sana.

Kemudian, sedang asik berjalan, saya menemukan penunjuk soal Makam Belanda di sana. Saya sendiri sudah tahu lama soal kompleks Makam Belanda di Kebun Raya Bogor, tapi sayangnya belum sempat melihat langsung dan baru pada kunjungan yang entah keberapa akhirnya saya bisa menatap makam-makam itu.

This slideshow requires JavaScript.

(Baca: Menemukan Makam Warga Jepang di Balikpapan)

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari papan keterangan, kompleks pemakaman ini umurnya jauh lebih tua daripada Kebun Raya Bogor itu sendiri. Didirikan tahun 1887 oleh C.G.C Reinwardt dan dengan terdapat berbagai macam bentuk nisan, tidak seperti makam zaman sekarang. Katanya, di kompleks pemakaman Belanda terdapat 42 makam, 38 makam mempunyai identitas, sementara sisanya adalah makam anonim.

Ada juga dua orang yang dikuburkan di dalam satu makam, yaitu Heinrich Kuhl dan J.C Van Hasselt, yang merupakan ahli ilmu burung serta anggota Commission for Natural Sciences yang sengaja datang ke Indonesia untuk bekerja di Kebun Raya Bogor. Sisanya informasinya, bisa kalian googling sendiri, ya.

Saya mencoba iseng menghitung jumlah makam dan rasanya jumlah makamnya tidak sampai 42 makam. Bisa jadi saya hanya menghitung dari luar saja dan tidak sepenuhnya masuk ke dalam. Bukannya apa-apa, saya agak sedikit takut untuk mengusik karena hari sudah menjelang sore dan rasanya kurang pantas saja ketika saya masuk hanya sekadar untuk menghitung jumlah makam, alih-alih membaca nama ataupun riwayat orang-orang di sana.

Ketika kami datang, rasanya makam-makam baru pada selesai dicat, karena saya sempat mencium aroma cat baru yang menguar ditambah ada sebotol kaleng cat yang dibiarkan tergeletak di salah satu nisan yang membuat pemakaman ini jadi tidak elok dilihat. Sayang sekali, ya, padahal makam ini termasuk tempat bersejarah dan rasanya agak kurang terawat. Walaupun makam sudah dicat putih sekalipun, dinding-dindingnya sudah banyak ditumbuhi lumut serta banyak juga daun-daun berserakan. Bisa jadi karena di sekitar makam pun terdapat kerumunan pohon bambu yang menjulang tinggi.

Saya dan Danis membaca nama-nama yang ada di sekitar kami meskipun kami berdua tidak ada yang benar-benar mengerti karena semuanya tertulis dalam Bahasa Belanda. Dua hal yang kami berdua pahami hanyalah waktu kelahiran dan kematian yang memang tertera di sana. Dalam hati saya ngebatin, apa, ya, rasanya tinggal di tahun 1800-an? Apakah jauh lebih seru dan menarik ketimbang kehidupan sekarang yang sudah lebih canggih dan modern?

Lagi asik melamun dan memotret geje pakai kamera ponsel, saya iseng bertanya pada Danis, “Menurutmu keturunan mereka (orang-orang yang dikuburkan di sini) ada yang datang ke sini nggak?”

“Kayaknya nggak deh. Bisa jadi mereka (keturunan orang-orang yang dimakamkan) nggak tau kalo buyutnya dimakamin.”

“Ya, juga, ya.”

Masuk akal.

“Kadang aku suka penasaran deh. Apakah di Belanda sana orang-orang yang bertugas dan dikirim ke Indonesia dianggap sebagai pahlawan?”

“Bisa jadi begitu. Mungkin aja pelajaran di sana juga kayak di sini, ada pelajaran sejarah nasional sama sejarah umum. Apa kita perlu ke Belanda langsung biar tau?” *dikepret

Setelah ngobrol ngalor-ngidul lainnya, kami berempat memutuskan untuk meninggalkan makam Belanda tersebut karena sudah semakin banyak orang yang datang dan masih banyak tempat di Kebun Raya Bogor yang belum didatangi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s