Gimana sih sudut pandang orang-orang Indonesia dalam memahami toleransi saat ini?

Pertanyaan ini sekelebat muncul dalam pikiran saya ketika melihat banyaknya berita mengenai kasus intoleransi yang menyerbak akhir-akhir ini. Jika kamu mengetik tingkat intoleransi di Indonesia di Google, maka kamu akan menemukan banyak artikel yang bisa membuat mengelus dada ataupun geleng-geleng kepala. Artikel-artikel menarik bisa kamu baca yaitu dari Rappler, VOA Indonesia, dan Femina.

Apalagi isu agama semakin berhembus menjelang Pilkada Jakarta putaran I dan II, membuat saya jadi malas untuk membuka media sosial selama beberapa waktu karena begitu panasnya situasi antara orang-orang yang pro dan kontra. Memang pada akhirnya gubernur baru telah terpilih, tapi nggak membuat situasi kembali dingin. Sumpah saya merindukan Twitter zaman dulu di mana banyak pepuisian atau jokes receh bertebaran.

Maka, ketika saya mengetahui kegiatan yang diadakan oleh JKTGoodGuide dan 100persenmanusia dengan topik mengenal keberagamanan di Indonesia (walaupun tempat yang kami kelilingi ada di Jakarta, jadi judul tulisan ini ditulis ‘di Jakarta’ bukan ‘di Indonesia’. Yaelah mbak ribet bener), tak ragu-ragu saya ikutan mendaftar bareng Danis. Hehehe..

E-posternya

*

Tanggal 29 April 2017

Kami berkumpul di pintu keluar selatan Stasiun Juanda sembari menunggu sekitar pukul 1 siang lebih sedikit. Sebelum memulai acara, kami berkenalan satu persatu dengan menyebutkan nama serta domisili (meski tidak ada yang benar-benar saya ingat) dan guide kali ini bernama Farid.

Tempat pertama yang kami datangi adalah sebuah masjid terbesar se-Asia Tenggara yang lokasinya memang dekat dengan Stasiun Juanda. Ya, apalagi kalau bukan Masjid Istiqlal.

Sebelum masuk masjid, diberi penjelasan terlebih dahulu tentang aturan masuk masjid
Depan Masjid Istiqlal

Para peserta ikut masuk ke dalam setelah sebelumnya menaruh sepatu di loker yang disediakan oleh pengelola masjid. Untuk mereka yang mengenakan baju terbuka atau celana pendek, disediakan juga komino untuk menutupi bagian yang terbuka. Saya sudah menyiapkan selendang untuk kepalatak kala diminta tidak memerlihatkan aurat, tapi ternyata imbauannya tidak ada karena di beberapa tempat saya suka melihat papan atau petunjuk bahwa kawasan itu wajib menggunakan busana muslim.

Kami serombongan masuk ke dalam dan naik tangga hingga di lantai 2 karena di lantai 1 sedang ada kajian (atau ceramah). Kemudian guide menjelaskan tentang asal-muasal serta sejarah Masjid Istiqlal ini. Saya tidak tahu sudah banyak yang mengetahuinya apa belum, ternyata Masjid Istiqlal dirancang oleh seorang Non-Muslim bernama Frederich Silaban. Pada saat itu memang ada sayembara tentang desain masjid yang akan dibangun dan Bung Karno pun tidak memandang apa agama si arsitektur. Uhuk.

Dalam Masjid Istiqlal

Saat mendengar simbol-simbol yang tersirat di dalam masjid membuat saya terperangah, takjub, dan begitu kagum. Diameter kubah berukuran 45 meter yang melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia, sementara terdiri dari lima lantai (termasuk lantai utama) yang menandakan waktu salat serta Pancasila, Kubah utama masjid ini ditopang 12 tiang yang menandakan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Di luar masjid, terdapat juga galeri-galeri foto yang menunjukkan dokumentasi tentang Masjid Istiqlal, mulai dari potongan koran maupun foto-foto.

Bedug dengan ukiran jepara sebagai piguranya

Di sisi lain masjid, kami diajak untuk melihat bedug dan kentongan yang ada di sana juga. Di bagian depan, menggunakan kulit sapi jantan dan di bagian belakang menggunakan kulit betina. Untuk penopangnya, menggunakan kayu yang didatangkan dari Jepara yang memiliki ukiran yang sangat cantik dan khas sekali.

Setelah berkeliling Masjid Istiqlal, perjalanan dilanjutkan ke Gereja Katedral yang memang bersebrangan langsung dengan Masjid Istiqlal.

Ternyata Gereja Katedral bukan nama asli gereja tersebut, lho. Nama resminya adalah De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming atau Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga. Arsitektur gereja dibuat dengan gaya neo gothik dan bila dilihat dari atas, atapnya akan terlihat seperti salib.

Pintu masuk
Bagian atap

Di bagian dalam, terdapat kaca patri yang menggambarkan peristiwa bagaimana Yesus disalib. Sayang, kala kami datang sedang ada acara pernikahan di dalam gereja sehingga tidak banyak hasil gambar yang didapatkan. Namun, tidak mengurangi ketakjuban saya yang akhirnya melihat langsung Gereja Katedral ini.

Dua tempat peribadahan sudah kami datangi. Akhirnya langkah kami berlanjut ke Gedung Kesenian Jakarta. Sebenarnya Gedung Kesenian Jakarta pun tidak masuk ke dalam itinerary, guide hanya sekadar ingin menunjukkan saja. Saya juga baru tahu kalau GKJ ini ternyata dekat juga, tidak sejauh pikiran saya selama ini. Di seberang GKJ pun banyak pelukis-pelukis jalanan yang menjajakan jasanya.

Itu kios lukisnya

“Kira-kira di sini ada yang tahu nggak kenapa pos berwarna oranye?” Tiba-tiba ketika berjalan guide mengajukan pertanyaan.

“Biar keliatan.”

“Warna matahari.”

“Ya, pengin aja.”

Kira-kira begitu jawabannya, sampai satu orang mencetus jawaban dengan benar, “Itu warna Belanda.” dan ternyata diiyakan oleh guide karena ketika masih menjadi Batavia, pos itu memang menjadi tempat yang sering didatangi oleh banyak orang bukan hanya untuk mengirim surat saja. Setelah kemerdekaan, warna tersebut pun dipertahankan sampai sekarang kita kenal. Ternyata misteri ini terjawab sudah.

Nggak sengaja kepotret

Memasuki area Pasar Baru. Ternyata area Pasar Baru pun bukan hanya sekadar tempat berbelanja saja, tapi di sini ragam keyakinan, keimanan, dan agama benar-benar beragam. Kami diajak untuk menyelami tempat-tempat spiritual yang ada di Jakarta seperti Sai Baba, Hare Khrisna, Yayasan Sikh Gurdwara Mission (Sikh Temple Pasar Baru), dan Saksi-saksi Yehuwa Indonesia. Sayang di tempat-tempat yang disebutkan tadi, hanya sampai di bagian depan dan tidak masuk ke dalam. (Yang Hare Khrisna lupa saya potret karena asik main sama anak kecil)

Bagian dalam Sai Baba
Yayasan Sikh Gurdwara Mission
Sedang dijelaskan tentang Yayasan Sikh Gurdwara Mission
Gedung Saksi-saksi Yehuwa Indonesia

Tinggal dua tempat lagi sebelum mengakhiri tour di hari itu. Tempat berikutnya adalah sebuah Wihara yang berada di gang-gang kecil kompleks Pasar Baru. Percaya atau tidak, Wihara memang berada di antara pertokoan-pertokoan yang cukup ramai hingga menjadi damai ketika datang ke sana. Wihara ini bernama Sin Tek Bio atau Yayasan Wihara Dharma Jaya.

Bagian keterangan Wihara
Bagian depan
Altar dekat pintu masuk
Barang-barang yang ada di sekitar wihara
Bagian wihara
Foto-foto yang tergantung

Seperti yang tertera di papan keterangan pada foto di atas, gereja ini dibangun pada tahun 1698 dan menjadi wihara tertua yang didirikan pada abad ke-17. Berdasarkan dari booklet yang saya terima, kemungkinan Sin Tek Bio dibangun oleh petani-petani Tionghoa yang tinggal di tepi kali Ciliwung di sekitar Pasar Baru. Pada ketika itu, kali Ciliwung merupakan jalur utama transportasi perdagangan dan menjadi tempat tinggal orang-orang Tionghoa miskin yang tinggal jauh di luar Kota Batavia dan Pancoran.

Sayang, waktu kami di sana hanya sebentar jadi saya tidak bisa mencari tahu lebih banyak atau sekadar menanyai bapak yang menjaga wihara atau anak yang saya temui sedang menyalakan lilin.

Tempat terakhir adalah gereja ayam. Bukan seperti gereja ayam yang ada di Ada Apa dengan Cinta 2, gereja ini disebut gereja ayam karena pada bagian kaca patri dengan bentuk ayam serta ayam sebagai penunjuk arah angin. Ayam juga disimbolisasikan sebagai waktu Perjamuan Terakhir yang dilakukan Yesus dengan murid-murid-Nya, Yesus telah mengatakan bahwa Petrus akan menyangkalnya “tiga kali sebelum ayam berkokok”. (dari Wikipedia)

Di tengahnya berbentuk ayam

Sembari menunggu petugas gereja yang akan memberi sambutan serta keterangan, guide menceritakan sesuatu soal mitos yang tersiar antara Pasar Baru dan Gereja Pniel kira-kira seperti ini:

Kalau dilihat dari atas, gang-gang di Pasar Baru itu seperti kaki seribu, makanya dibangun banyak wihara untuk menyeimbangkan suasana. Tapi pas pembangunan gereja ini (Gereja Pniel) sempat ditentang sama orang-orang China karena katanya ayam bisa jadi pemaksa yang mematok rezeki pedagang yang berjualan. Makanya, di Pasar Baru dibangun lagi patung elang sebagai simbol kalau elang itu penguasa dan bisa memangsa ayam.

Balik lagi ke bahasan gereja.

Nama asli Gereja itu Gereja Pniel. Lokasinya berada di Jl. Samanhudi No.12 dan salah satu Gereja di Indonesia bagian Barat. Meskipun tidak setua wihara Sin Tek Bio, Gereja Pniel telah ada sejak hampir 104 tahun di tanggal 24 September nanti.

Bagian depan Gereja Pniel

Bangunan dengan warna cokelat muda dan penuh dengan jendela ini memang terlihat artistik meski tidak semewah Gereja Katedral. Bangunan yang sudah masuk ke dalam bangunan Cagar Budaya ini memang masih menyerupai kondisi aslinya di mana kursi, mimbar dan perlengkapan lainnya yang terbut dari jati masih tetap dipertahankan sejak masa Belanda meskipun bagian anyaman rotan dan lantai ada yang sudah diganti karena termakan usia.

Ibu pengurus gereja

Setelah berputar-putar selama hampir dua jam, rasanya duduk di kursi kayu dan mendengarkan ceramah ibu yang saya lupa namanya itu enak dan tentram rasanya. Beliau dengan lembut dan suka cita menjelaskan sejarah gereja ini. Katanya dulu, kubah gereja berbentuk lingkaran dan membuat suara paduan suara terasa bagus. Namun, karena takut atap akan rubuh maka atap berbentuk lingkaran itu ditutup dan dibuat mendatar. Sayang, ketika saya minta foto bagaimana bentuk atap sebelum direnovasi tidak ada.

Di sana juga terdapat sebuah Al-Kitab yang didatangkan langsung dari Belanda dan menjadi hadiah dari Ratu Wilhelmina. Bahkan, ketika kertas-kertas terkena rayap dan rusak faktor usia, perbaikannya dilakukan dan diterbangkan ke Belanda lho. Ada juga cawan suci yang umurnya juga setara umur gereja tapi tetap kinclong.

Kemudian, kami diajak untuk masuk ke dalam kantor yang berada di belakang mimbar. Terdapat foto-foto pendeta yang pernah berkutbah sepanjang gereja itu berdiri, lemari porselain untuk perjamuan, lemari-lemari pakaian untuk acara tertentu, dan yang menarik adalah tulisan soal logo Tahun Gereja ini. Kalau tidak salah, dalam setahun ada beberapa perayaan umat Kristen yang digambarkan dengan logo. Nah, di bulan April kemarin logonya Paskah.

Logo Tahun Gereja

Tak ketinggalan si ibu berpose dengan selendang (duh, maaf saya lupa istilahnya apa) dan tersenyum.

Posenya

Berakhirnya penjelasan dari ibu Gereja Pniel, berakhir pula rangkaian acara JKTGoodGuide serta 100persenmanusia. Ini pertama kalinya saya ikutan dan saya rasa, jika waktunya pas akan ikut walking tour untuk kali kedua. Syukurlah cuaca sedang bersahabat, walau sempat panas terik dan gerimis sedikit tapi tidak menghalangi untuk mengulik sejarah dan kisah yang menarik ini.

Kamu kapan ikut?
Dapat hadiah bookmark

Mohon maaf jika tulisan ini banyak kekurangan. Apalagi kualitas foto yang biasa aja karena pakai kamera ponsel. Hahaha… Soalnya saya lupa membawa buku catatan dan tidak langsung menuliskannya di blog.

Terima kasih banyak tim yang sudah memberi kesempatan untuk ikut. Terima kasih bagi yang menyempatkan diri untuk membaca tulisan yang cukup panjang ini. Semoga kita semua diberikan kemudahan dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan, terlepas dari keyakinan atau pilihan apa yang kita jalani sekarang.

Advertisements

7 thoughts on “A Walk to Understand: Memahami Keberagaman Keyakinan, Keimanan, dan Agama di Jakarta

  1. Seru banget ya jalan-jalan begini, hiks!

    Rata-rata udah pernah kudatengin waktu masih kecil, tapi kurang lengkap pasti cerita sejarahnya dibandingin guide 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s